Monday, 23 September 2019

Petani memindahkan air yang mengandung garam dari penampungan ke bilahan bambu di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Produksi garam di desa Jono cukup unik dan langka karena bahan bakunya berasal dari air yang didapat dari sumur, bukan dari laut. Sumur tersebut memiliki sumber air asin, tidak pernah kering meskipun musim kemarau serta mempunyai rasa yang lebih gurih bila dibandingkan dengan garam laut. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Petani menimba air yang mengandung garam untuk disalurkan ke panampungan di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Proses pembuatan garam dimulai dengan menimba air dari sumur sedalam 25 meter, kemudian disalurkan melalui pipa-pipa yang terhubung dengan penampungan. Dari penampungan tersebut para petani memindahkan air ke bilahan bambu atau warga menyebutnya klakah. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Petani memindahkan air yang mengandung garam dari penampungan ke bilahan bambu di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Bilahan bambu yang sudah berisi air itu dijemur di bawah terik matahari hingga mengkristal berbentuk garam yang siap dipanen. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Petani memanen garam di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Area tambak garam Jono dengan luas sekitar tiga hektare itu sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Pada tahun 1970-an, jumlah petani garam Jono mencapai ratusan dan saat ini hanya tersisa puluhan. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Petani menyalurkan air yang mengandung garam melalui pipa di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Warga terpaksa meninggalkan profesi petani garam karena hasil yang didapatkannya tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak diantara mereka yang lebih memilih mencari pekerjaan lain, akibatnya tidak ada regenerasi. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO

Petani menunjukkan garam saat panen di Desa Jono, Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, 10 Juli 2019. Saat ini hanya tersisa enam sumur dan kondisinya mengalami pendangkalan dan penyempitan. Kekhawatiran lain dari petani garam adalah ambrolnya sumur-sumur itu. Mereka berharap pemerintah memperhatikan keberadaan tambak garam yang unik dan langka itu agar produksi garam Jono tetap berjalan dan regenerasi tidak putus. ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO