English Version
ENGLISH
| Monday, 24 November 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Kisah Masa Kejayaan Pengrajin Senapan Cipacing   
Sabtu, 28 September 2013 | 09:42 WIB
Kisah Masa Kejayaan Pengrajin Senapan Cipacing  

TEMPO.CO, Sumedang - Sebuah patung kecil berdiri di depan rumah makan sop buntut yang terletak di Jalan Rancaekek, Jatinangor, Jawa Barat. Menggunakan baju kuning dengan kancing terbuka dan celana hitam selutut, pria sekitar 30 tahun dengan ikat kepala khas Sunda ini terlihat membidik dengan senapan angin. Di belakang patung setinggi tiga meter itu, berdiri rumah makan sop buntut.Berdirinya patung itu bukan tanpa alasan. Patung pria membidik dengan senapan angin ini ibarat tonggak. Dia menandakan sesuatu. "Dulu lokasi rumah makan sop buntut itu adalah bangunan koperasi pengrajin senapan angin Cipacing," kata Dedi Sudjana, tokoh masyarakat Desa Cipacing, pada Tempo, Minggu, 8 September 2013.Nama koperasi itu adalah Bapikra. Dedi tak ingat betul apa kepanjangan dari Bapikra. "Badan industri pengrajin senapan angin, begitulah kira-kira," kata pria 57 tahun ini sembari menghisap rokok putihnya. Saat didirikan pertama kali pada 1975, jumlah anggota koperasi itu mencapai ratusan. Anggotanya bukan cuma pengrajin senapan angin dari Cipacing, tapi juga daerah di sekitarnya, seperti Cikeruh, Cilayung, Cicempur, dan daerah lainnya di Jatinangor.Ada alasan kuat mengapa pengrajin-pengrajin senapan angin bergabung di Koperasi Bapikra. Saat itu pamor senapan angin buatan pengrajin Cipacing tengah jaya-jayanya. Bandar-bandar senapan angin banyak memesan senapan asal Cipacing. Mereka menjualnya ke seluruh daerah, bahkan hingga ke Papua. Saban Sabtu dan Minggu, bus berisi rombongan turis luar negeri pun sering singgah di Cipacing. Mereka banyak membeli senapan buatan Cipacing. "Senapan Cipacing sangat diminati," kata Dedi.Kerajinan senapan angin Cipacing mulai berkembang sekitar 1960-an. Sebelum membuat senapan angin, para orang tua di Cipacing adalah pengrajin berbagai perkakas. Mereka membuat jarum mesin, pisau, kancing, hingga teropong (spindel tenun Majalaya). Kerajinan itu kemudian beralih pada pembuatan senapan angin. Dedi yang orang tuanya juga pengrajin senapan angin tak ingat mengapa warga Cipacing beralih membuat senapan. Saat itu dia masih kecil.Bergairahnya kerajinan senapan Cipacing rupanya menjadi perhatian Koramil setempat. Mereka merasa perlu adanya badan hukum yang bisa mengayomi dan melindungi industri kerajinan senapan Cipacing. Selain itu, tentu saja agar kegiatan pengrajin senapan bisa dibina dan dikoordinasikan. Pilihan jatuh pada pembentukan koperasi. Tingginya pamor senapan buatan Cipacing bergaung jauh. Dedi ingat betul, saat peresmian Koperasi Bapikra pembukaannya dihadiri seorang jenderal angkatan laut dan Harmoko. Nama belakangan ini kemudian menjadi menteri penerangan semasa Orde Baru. "Saya lupa nama jenderal itu, tapi yang jelas dia sampai kasih alat mesin bubut buat pengrajin," kata Dedi yang mewarisi keahlian membuat senapan pada anak-anaknya. Bagi Dedi, semua itu cukup membuktikan masa-masa itu adalah masa jaya-jayanya pengrajin senapan Cipacing. (Baca berita lainnya di Edisi Khusus Senjata Penembak Polisi)AMIRULLAH | PERSIANA GALIH

Berita terpopuler

Soal Lurah Susan, Ahok: Gamawan Harus Belajar LagiOtobiografi Mun'im: Sepotong Jasad, Seribu Cerita Waspada, Banyak Dijual Ban Dalam Motor PalsuSoal Lurah Susan, Staf Mendagri Tegur AhokSeekor Babun Remas Dada Wartawan di Tengah Siaran