English Version
ENGLISH
| Saturday, 29 November 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Menteri PU: Waduk Bajul Mati Beroperasi 2015  
Kamis, 01 Agustus 2013 | 13:14 WIB
Menteri PU: Waduk Bajul Mati Beroperasi 2015  

TEMPO.CO, Banyuwangi - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto berjanji akan mengucurkan anggaran Rp 133 miliar pada 2014 guna menyelesaikan pembangunan Waduk Bajul Mati di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo, Jawa Timur. "Kami targetkan bisa beroperasi awal 2015," kata Djoko saat meninjau waduk tersebut, Kamis, 1 Agustus 2013.Menurut Djoko, proyek pembangunan waduk tersebut membutuhkan anggaran Rp 243 miliar. Sejak tahun 2006 hingga kini sudah menghabiskan biaya Rp 110 miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Selain untuk keperluan irigasi, waduk ini penting untuk industri," ujarnya.Proyek pembangunan waduk, dengan luas kawasan 115 hektare tersebut, dikerjakan oleh PT Brantas Abib Raya. Waduk akan membendung Sungai Bajul Mati, dan mampu menampung air 10 juta meter kubik. Bila sudah beroperasi, waduk akan mengairi sawah seluas 1.800 hektare.Penanggung jawab proyek, Amos Sangka, mengatakan selain irigasi, waduk menjadi sumber air baku untuk air minum dan industri dengan kapasitas 180 liter per detik. Kementerian Pekerjaan Umum rencananya akan membangun pembangkit listrik mikro hidro 340 kilowatt. "Saat ini masih proses pembuatan fondasi dasar," ucapnya.Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Waduk Bajul Mati menjadi solusi untuk mengatasi masalah krisis air yang terjadi di wilayah Banyuwangi utara, seperti Kecamatan Wongsorejo. Bila waduk telah beroperasi, dia berharap sawah milik petani menjadi lebih produktif. "Pemerintah Banyuwangi juga akan membangun kawasan industri di Wongsorejo," tuturnya.IKA NINGTYASTopik terhangat:Ahok vs Lulung | Anggita Sari | Bisnis Yusuf Mansur | Kursi Panas Kapolri Berita lainnya:Ahok Hadapi Preman, Prabowo Pasang Badan  Ahmadiyah: Moeldoko Terlibat Operasi Sajadah 2011Penerobos Portal Busway Bukan Anak Jenderal  Nazaruddin Janji Ungkap Kasus yang Lebih Besar