English Version
ENGLISH
| Tuesday, 22 July 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Harga Cengkeh Melambung, Industri Rokok Menjerit  
Senin, 07 Januari 2013 | 19:25 WIB
Harga Cengkeh Melambung, Industri Rokok Menjerit  

TEMPO.CO, Malang - Harga cengkeh terus melambung hingga menyentuh Rp 120 ribu per kilogram dari normalnya Rp 60-80 ribu per kilogram. Padahal, industri rokok yang juga menggunakan cengkeh sebagai bahan baku selain tembakau, selama ini mematok harga cengkeh maksimal Rp 70 ribu per kilogram. "Karena harga cengkeh naik terus, pengusaha rokok kecil merugi dan terancam gulung tikar," kata Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto, di Malang, kemarin. Menurut Heri, pengusaha rokok skala kecil terancam bangkrut karena tak bisa menaikkan harga rokok dengan tiba-tiba. Hal ini berbeda dengan perusahaan rokok besar yang bermodal kuat dan bisa mengatur harga jual produk lebih murah. Heri khawatir kenaikan harga cengkeh akan mengancam produsen rokok keretek. Apalagi jumlah produsen rokok kretek di Indonesia terus merosot. Pada 2009 jumlah pabrik rokok keretek mencapai 2.500 perusahaan, kini menyusut hanya 1.500 perusahaan. Kini, 1.500 perusahaan rokok skala kecil dan menengah yang tersisa itu bakal rontok kembali jika harga cengkeh tak kembali stabil. Karena itu, Formasi mendesak pemerintah untuk turun tangan mengendalikan harga cengkeh di pasaran serta mematok harga sesuai dengan golongan untuk menyelamatkan produsen rokok kecil. “Kalau tidak, bisa-bisa kejadian pada 2011 terulang, saat harga cengkeh sampai Rp 250 ribu per kilogram. Pengusaha kecil bangkrut semua,” katanya. Saat ini, produk rokok yang beredar di pasaran antara lain rokok keretek filter, keretek nonfilter, dan filter putih. Kandungan cengkeh untuk masing-masing rokok berbeda. Keretek filter membutuhkan cengkeh 18 persen-20 persen, keretek nonfilter membutuhkan cengkeh lebih banyak, yaitu 30 persen-40 persen. Adapun harga jual rokok keretek berkisar Rp 3.000-Rp 4.000 per bungkus. Kementerian Pertanian mengatakan, kenaikan harga cengkeh disebabkan tingginya permintaan untuk bahan baku industri. Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian, Azwar AB, mengatakan, selama ini hampir 90 persen produksi cengkeh nasional memenuhi kebutuhan industri rokok.Menurut dia, harga naik ini juga kemungkinan disebabkan petani banyak yang menahan hasil produksinya untuk tidak dijual. "Dulu kan petani sistemnya panen jual. Sekarang karena tahu harga bagus jadi dijemur lama dan disimpan," kata Azwar ketika dihubungi, Senin, 7 Januari 2013.Ia menambahkan, cengkeh merupakan tanaman rempah yang tahan disimpan. Cengkeh mampu disimpan selama empat hingga lima tahun. "Bisa tahan kalau tingkat kekeringannya bagus," ujarnya.Kebutuhan cengkeh untuk industri rokok sekitar 1100-110 ribu ton per tahun. Namun Azwar menambahkan, industri rokok tidak akan kekurangan pasokan. "Karena industri rokok biasanya sudah punya stok untuk dua sampai tiga tahun," katanya.ROSALINA | EKO WIDIANTO