English Version
ENGLISH
| Saturday, 29 November 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
M. Nuh: Kurikulum 2013 Harus Bertahan 15 Tahun
Kamis, 27 Desember 2012 | 05:44 WIB
M. Nuh: Kurikulum 2013 Harus Bertahan 15 Tahun

TEMPO.CO , Jakarta - Sudah menjadi pemeo bahwa setiap menteri pendidikan baru pasti kurikulum baru. Kalimat tersebut sebenarnya tak ingin diteruskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. "Kalau dibilang berat iya, mending tidak mengubah kurikulum sama sekali daripada mikir semua ini, tapi ini risiko," kata dia dalam kunjungan ke kantor Tempo, Rabu, 26 Desember 2012. Risiko tersebut adalah hilangnya satu generasi dalam bonus demografi Indonesia. Sesuai dengan pertumbuhan populasi, Indonesia sejak 2010 hingga 2035 sedang mengalami bonus demografi. Tapi ternyata dari hasil evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kurikulum yang ada belum mampu mempersiapkan generasi untuk tiga dasawarsa lagi. "Kalau terlambat, taruhannya ada sekitar 20 juta anak yang hilang (satu tahun momen pembelajaran)," ujar Nuh. Angka 20 juta diambil dari empat jenjang pendidikan yang akan menggunakan kurikulum 2013 yaitu kelas 1,4,7, dan 10. Sehingga akan ada empat jenjang pendidikan yang kehilangan kesempatan untuk menjadi sosok yang kreatif dan siap dengan tantangan zaman. Sebab, kurikulum 2013 diharapkan bisa membuat siswa jadi sering bertanya, menggunakan nalar, bereksperimen dan mampu mengkomunikasikan pendapatnya. "Ini momentum, kalau tidak dimanfaatkan betul akan rugi," ujar mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini. Maka Kementerian berusaha membuat kurikulum yang bisa digunakan tak hanya dalam satu periode kekuasaan seorang menteri. "Rasa-rasa bisa 15 tahun," kata Nuh. Prediksi itu diperoleh dari proses pembuatan rancangan kurikulum dan juga falsafahnya. Menurut Nuh, dari masukan pejabat kementerian yang sebelumnya juga terlibat dalam pembuatan kurikulum lama, kurikulum baru ini berbeda. "Sebab semua pejabat terlibat, ada perwakilan seluruh lapisan dan juga ada uji publik," kata dia. Kementerian mengklaim selalu mengevaluasi secara ketat perkembangan dengan rapat dua kali sepekan saban Selasa dan Kamis. "Kalau kami tidak yakin, ya mana berani uji publik, jika secara konsep tidak matang, bisa jebol nanti, falsafahnya kami pegang betul" kata Nuh. Hasil uji publik yang ditutup pada 23 Desember 2012 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menyetujui. Mengenai berapar presentasenya, Kementerian masih menghitung dan mengevaluasinya. DIANING SARI