English Version
ENGLISH
| Tuesday, 22 July 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
BK Sebut Idris Laena Meminta Uang dari PT Garam  
Selasa, 04 Desember 2012 | 21:50 WIB
BK Sebut Idris Laena Meminta Uang dari PT Garam  

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat, Prakosa, membenarkan kabar soal adanya indikasi permintaan dana dari anggota Komisi Badan Usaha Milik Negara DPR, Idris Laena, terhadap direksi PT Garam dan PT PAL.  "Tetapi keterangan dari Pak Idris berbeda dengan yang diberikan oleh direksi. Jadi masih harus ditelaah," ujarnya setelah memimpin rapat konfrontasi, Selasa, 4 Desember 2012. Prakosa mengatakan, dalam rapat diakui ada sejumlah pertemuan antara direksi BUMN dan Idris. "Kalau dengan PT Garam, satu kali pertemuan. Sedangkan pertemuan antara Idris dan PT PAL diadakan berkali-kali. Paling sedikit lima kali," ujar Prakosa. Menurut dia, inisiatif pertemuan datang dari Idris. Tetapi tidak ada unsur paksaan dalam permintaan pertemuan itu. Prakosa mengatakan, tidak seharusnya anggota Dewan bertemu dengan mitra komisinya di luar agenda resmi atau di luar gedung parlemen. "Nantinya akan diputuskan apakah melanggar etik atau tidak," ujar dia. Keputusan tersebut sekaligus menetapkan nasib para anggota Dewan yang diduga meminta uang kepada direksi BUMN. "Keputusan diambil dalam musyawarah 11 anggota Badan Kehormatan. Jika perlu melalui voting (pemungutan suara)," kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.  Rapat keputusan Badan Kehormatan akan digelar pada Rabu, 5 Desember 2012. Namun hasilnya tidak langsung disampaikan ke khalayak. "Kami sampaikan ke fraksi dulu, baru disampaikan secara resmi," ujar Prakosa. Ia menargetkan hasil keputusan bisa selesai sebelum akhir masa sidang ketiga, yaitu 14 Desember 2012. "Jadi semuanya rampung sebelum reses." Rapat konfrontasi Selasa siang tadi mempertemukan Direktur Utama PT Garam Yulian Lintang, mantan Direktur Utama PT Garam, Slamet Untung Irredenta; Direktur Utama PT PAL, Arif Firmansyah; mantan Direktur Utama PT PAL, Hersusanto; serta Idris Laena. Sebelumnya, Idris Laena dilaporkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan karena meminta jatah ke BUMN. SATWIKA MOVEMENTI