English Version
ENGLISH
| Wednesday, 23 April 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Didik Nini Thowok, Lengger dan Yale University  
Rabu, 21 November 2012 | 13:08 WIB
Didik Nini Thowok, Lengger dan Yale University  

TEMPO.CO, Purwokerto - Apa jadinya bila dua maestro tari lintas gender (cross gender) menari dalam satu panggung? Didik Nini Thowok, seniman serba bisa, dan Dariah, 84 tahun, penari lengger lanang terakhir yang masih hidup, pada pertengahan November 2012 lalu menari bersama di Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Keduanya tampak saling belajar dan saling mengagumi.Meski sudah tak muda lagi, Dariah masih menari dengan energetik. Dua tarian mereka pentaskan di panggung sederhana itu. “Totalitasnya masih terasa. Saya salut dengan Mbok Dariah,” kata Didik, yang ditemui usai pergelaran.Kedatangan Didik untuk mendokumentasikan sosok Dariah itu merupakan hasil perenungannya terhadap Serat Centhini. Sebab, dalam serat itu ada kisah tentang banyaknya kesenian yang diperankan laki-laki.Menurut Didik, ide mendokumentasikan lengger Dariah muncul sewaktu dia berada di Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012 lalu. Ketika menarikan lengger di Universitas Yale di New Haven, Didik berjanji pada dirinya untuk mendatangi Dariah.Representasi kesenian lintas gender itu sudah ada sejak zaman Sultan Hamengku Buwono VII. Saat itu tari golek dimainkan penari laki-laki. Cross gender, kata Didik, juga ditemukan di Serat Centhini buku kelima. Di sana, ada tokoh Cebolang yang menarikan lengger dengan dandanan perempuan. Untuk menjadi penari lengger, kata Didik, butuh keseriusan. Totalitas menjadi penari lengger diperoleh melalui proses ritual yang berat. Selain puasa, penari lengger harus mandi di tujuh sumur. “Penari juga harus bersemadi di tempat khusus.” Dariah hanya bisa tersenyum melihat polah Didik yang menari kocak untuk menghibur penonton. “Saya langsung klop saat ketemu Didik,” kata penari yang hanya bisa berbahasa Banyumasan itu. Dia mengaku sempat bermimpi bertemu Didik sebelum pentas tersebut. Dariah juga punya keinginan bisa tampil di Keraton Yogyakarta untuk menarikan lengger.Budayawan yang juga penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, mengatakan di Banyumas seni cross gender sudah sangat biasa. “Sejak dulu ada. Penari menjadi wandu atau banci karena menari lengger itu banyak,” katanya.Hanya saja saat ini generasi itu mulai hilang dan lebih banyak penari ronggeng yang dimainkan perempuan. Kisah cross gender juga tertulis di History of Java karya Sir Raffles. Menurut dia, kesenian Banyumasan hampir semuanya berorientasi kerakyatan.Rudi Lukmanto, penari lengger lanang masa kini, mengatakan bahwa lengger masih menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat Banyumas. “Saya ingin mengikuti jejak Mbok Dariah,” kata bapak satu anak itu. Dia mengaku kerap dikejar-kejar pria maupun wanita yang terpesona oleh aksi tarinya. "Kalau yang menari perempuan, namanya ronggeng. Sedangkan lengger, penarinya laki-laki," Rudi menambahkan.ARIS ANDRIANTOBerita Terpopuler: Jokowi Siap Kasih Rp 15 Miliar ke Kelurahan, Tapi... Lawan Israel, Hisbullah Tak Biarkan Gaza SendiriIni Situs-situs Israel yang Dilumpuhkan Anonymous Hacker Sedunia Serukan Perang Cyber Lawan Israel  UMP Rp 2,2 Juta, Pedagang Bakso Menjerit