English Version
ENGLISH
| Tuesday, 29 July 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Ribetnya Menyewa Baju Peranakan dan Kebaya  
Senin, 17 Oktober 2011 | 05:15 WIB
Ribetnya Menyewa Baju Peranakan dan Kebaya  

TEMPO Interaktif  - Bayu Kuncahyo bermandi keringat pada Sabtu siang lalu. Matahari yang memanggang kulit cokelatnya tak begitu dia hiraukan. Sejak pagi dia mengaku telah mengelilingi Jalan Wijilan dan Panembahan, lokasi penyewaan pakaian adat yang terdekat dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dia hendak menyewa baju peranakan untuk meliput acara pernikahan putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GRAy Nurastuti Wijareni atau Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Untuk meliput acara pernikahan putri bungsu Sultan ini, wartawan pria diwajibkan mengenakan baju peranakan lengkap dengan blangkon dan jarit. Perempuannya mengenakan kebaya Kartini dengan kain batik. Tapi sampai berjam-jam memutari kawasan, tak satu pun tempat yang menyisakan baju peranakan lengkap dengan jarit dan blangkonnya. Seorang temannya menyarankan dia agar mencarinya ke sebuah penyewaan di Mrican, Sleman. Dia pun segera ke sana. Memang ada, tapi motifnya tak cocok. Tak kurang akal, dia beranjak ke toko handycraft. Ternyata puluhan wartawan dan orang awan yang senasib sudah memenuhi toko tersebut. "Mereka sama seperti saya, tak kebagian sewa peranakan," kata Bayu. Dialek bahasa yang mereka gunakan menandakan bahwa mereka bukan asli Yogya. Baju peranakan yang ia beli ternyata tidak murah. Harganya dibanderol mulai Rp 115 ribu hingga Rp 175 ribu. "Daripada tidak bisa liputan atau disuruh pulang karena salah kostum, mending saya beli," ujarnya dengan nada lega. Wartawan media nasional lainnya, Suryo Wibowo, beruntung mendapatkan baju sewa lantaran sudah menyewanya beberapa hari lalu. "Itu saja tinggal terakhir," ujarnya. Dia menyewa di Koesaeri seharga Rp 25 ribu untuk tiga hari. Roesmianti, pegawai penyewaan Koesaeri, mengatakan 50 baju peranakan milik mereka sudah habis disewa para wartawan. Meski laris manis, penyewaan pakaian ini tak menaikkan harga sewa. "Kami tidak menaikkan harga karena ini hajatan Keraton," katanya. Sementara itu, ratusan wartawan dari berbagai daerah, dalam dan luar negeri, dipastikan meliput acara pernikahan ini. Jumlah pendaftar untuk mendapatkan akses ke press room Keraton saja mencapai 500-an orang. Banyak yang ditolak karena kapasitas media center terbatas. BERNADA RURIT