English Version
ENGLISH
| Monday, 22 December 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Menteri Hatta Tak Setuju Zona Perdagangan Bebas Dicabut
Senin, 12 September 2011 | 16:49 WIB
Menteri Hatta Tak Setuju Zona Perdagangan Bebas Dicabut

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan tidak setuju adanya kajian ulang perjanjian kerja sama perdagangan bebas. Indonesia telah menandatangani kajian ulang perjanjian itu. Ia mengungkapkan FTA sudah berjalan dengan baik. "Evaluasi itu kalau dalam aspek multilateral apalagi ASEAN kan tidak begitu saja dilakukan," kata Hatta di Istana Merdeka, Senin, 12 September 2011. Sebelumnya Menteri Keuangan Agus Martowadojo mengatakan FTA yang terjalin saat ini cenderung memanfaatkan pasar Indonesia sementara. Hal itu tidak sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri dengan mengutamakan produksi dalam negeri.Dengan begitu, komitmen Indonesia dengan negara mitra, khususnya terkait kesepakatan multilateral atau bilateral dalam perdagangan internasional, perlu dikaji ulang. Keinginan mengkaji ulang komitmen FTA tidak terlepas dari polemik produsen ponsel pintas BlackBerry, Research in Motion (RIM). Perusahaan asal Kanada itu memilih mendirikan pabriknya di Malaysia. Padahal pasar BlackBerry di Tanah Air lebih besar dibandingkan negeri jiran itu. Pemerintah pun menilai keputusan itu berhubungan dengan kebijakan FTA. Hatta mengatakan dalam mengatasi ketidakseimbangan neraca perdagangan hal yang menjadi penekanannya pada konsep comprehensive partnership agreement (CPA). FTA itu, menurutnya, hanya salah satu komponen dalam CPA. "Ke depan kita ingin kembangkan CPA. Jadi bukan mengevaluasi yang sudah ada dalam arti protokolernya sudah ada," katanya. Menurutnya, hal yang menjadi catatan sebelum melakukan CPA perlu memperhatikan komoditas yang masuk dalam kerangka perjanjian. Jadi ia berharap tidak ada komoditas tertentu yang menjadi terpukul. "Sebelumnya melakukan riset, studi melibatkan pengusaha dan semuanya," ujarnya lagi. EKO ARI WIBOWO