English Version
ENGLISH
| Saturday, 23 August 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Soal Tuduhan Suap, Akil Mochtar: Itu Fitnah!
Sabtu, 13 Agustus 2011 | 20:38 WIB
Soal Tuduhan Suap, Akil Mochtar: Itu Fitnah!

TEMPO Interaktif, Jakarta - Hakim Konstitusi Akil Mokhtar membantah keras tuduhan yang dialamatkan kepadanya, bahwa dia menerima suap sebesar Rp 1,7 miliar saat Mahkamah Konstitusi menangani sengketa pemilihan kepala daerah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

“Itu semua Fitnah! Moral saya tidak sebejat itu!” kata Akil melalui pesan singkatnya yang dikirim kepada Tempo semalam, Jumat 12 Agustus 2011.

Tudingan tersebut, kata Akil, tak lain karena adanya pihak-pihak yang tidak bisa menerima kekalahan dalam pilkada. Akil bahkan menantang balik pihak yang telah menudingnya menerima suap, untuk dapat membuktikan tuduhannya. “Suruh dia buktikan, di rekening siapa, atas nama siapa, apa hubungannya dengan saya, jangan hanya berani menduga-duga saja,” kata dia.

Selain Akil, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga dituduh menerima suap Rp 4 miliar dalam sengketa pilkada Kotawaringin Barat itu. Suap itu diduga berasal dari pasangan calon Bupati Kotawaringin Barat dan wakilnya, Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto yang memenangkan sidang gugatan hasil pilkada daerah tersebut. Kusniadi, salah satu kerabat Ujang yang ikut bersaksi dalam persidangan gugatan pilkada itu, yang menyebut Mahfud menerima duit dari seorang kiai asal Cirebon. Duit itu dititipkan Ujang yang juga  bupati incumbent, ke rekening pribadi sang kiai kepercayaan Mahfud. Menurut Kusnadi, yang juga seorang kontraktor di Kotawaringin Barat itu, duit Rp 1,7 miliar yang diduga diterima Akil Mochtar, juga berasal dari Ujang Iskandar. Duit itu diititipkan melalui Tengku Kamarul, orang yang pernah tinggal di rumah Akil di Pontianak, Kalimantan Barat. "Transaksinya melalui rekening Bank Mandiri antara tanggal 9 sampai 16 Juni 2010," kata Kusniadi saat menggelar konferensi pers di Hotel Kompinsky Jakarta kemarin, Jumat 12 Agustus 2011. Pilkada Kotawaringin Barat yang digelar pada 5 Juni 2010 itu memenangkan pasangan Sugianto dan Eko Soemarmo. Namun kemenangan mereka membuat pasangan Ujang Iskandar dan Bambang merasa tidak puas. Mereka pun menggugat penetapan Komisi Pemilihan Umum Kotawaringin Barat dengan menuding pasangan Sugianto melakukan politik uang dan mengancam warga. Mahkamah Konstitusi yang menangani sengketa pilkada itu akhirnya mengeluarkan putusan pada 7 Juli 2010, dan menyebut kemenangan pasangan Sugianto tidak sah secara hukum. Komisi Pemilihan Umum Kotawaringin Barat akhirnya didesak untuk menetapkan pasangan Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto sebagai pemenangnya. Berdasarkan putusan Mahkamah, Menteri Dalam Negeri lalu mengeluarkan surat penetapan bupati dan wakil bupati terpilih terhadap Ujang dan Bambang.

Senada dengan Akil, Mahfud MD juga membantah keras tudingan yang diarahkan kepadanya. Dengan komentar singkat, Mahfud mengatakan tuduhan tersebut hanyalah "sampah". "Itu cerita sampah yang sudah kuno," kata dia melalui pesan singkatnya kepada Tempo, Jumat malam.

RIRIN AGUSTIA | TRI SUHARMAN