English Version
ENGLISH
| Friday, 31 October 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Banyak BPR Tutup Karena Kredit Macet  
Kamis, 04 Agustus 2011 | 09:00 WIB
Banyak BPR Tutup Karena Kredit Macet  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Jumlah bank perkreditan rakyat (BPR) mengalami penyusutan. Sepanjang semester pertama 2011, jumlah BPR telah berkurang 18 perusahaan, yakni dari 1.700 BPR pada awal tahun menjadi 1.682 BPR per akhir Juni. "Banyak BPR ditutup karena kredit macet (NPL)," ujar Deputi Direktur Kredit Bank Perkreditan Rakyat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bank Indonesia, Mahdy Mahmudy, di Jakarta Convention Center, Rabu, 3 Agustus 2011. Bank-bank perkreditan itu, Mahdy melanjutkan, terpaksa dilikuidasi karena terlalu banyak menghadapi masalah fraud (penggelapan dana) dan kredit bermasalah. Hal itu akibat penyaluran dan pengelolaan kredit manajemen BPR yang tidak hati-hati. Selain itu, persoalan permodalan masih menjadi kendala. Menurut catatan Bank Indonesia, dari 1.682 BPR yang ada, NPL gross-nya hingga akhir Juni 2011 mencapai 6,22 persen. Tingkat kredit seret sebesar itu dinilai sudah termasuk mengkhawatirkan. Pasalnya, Bank Indonesia masih mematok batas maksimum NPL sebesar 5 persen bagi bank secara umum. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan penyaluran kredit usaha kecil dan menengah oleh BPR mencapai Rp 1,391 triliun per Juni. Sementara itu, kredit mikro mencapai Rp 2,17 triliun. Namun, total kredit bermasalah sektor usaha kecil dan menengah telah mencapai Rp 1,56 triliun atau 8,19 persen. Rata-rata ini lebih tinggi dari total NPL gross kredit usaha kecil-menengah perbankan umum yang mencapai 4,59 persen atau Rp 20,037 triliun. Begitu juga NPL kredit mikro BPR. Per Juni mencapai 6,31 persen atau Rp 2,34 triliun, lebih tinggi dari NPL gross kredit MKM perbankan di kisaran 2,99 persen atau Rp 32 triliun. Ketua Persatuan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia Joko Suyanto mengakui ada sejumlah BPR yang mengalami missmanagement. Para pengelola lalai dan tak berhati-hati menyalurkan kredit. Misalnya, kredit diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak bankable. Meski demikian, menurut Joko, persoalan BPR bukan hanya itu. Secara umum, BPR juga bermasalah dalam aspek bisnisnya. "Kondisinya semakin memburuk," kata Joko saat dihubungi kemarin. FEBRIANA FIRDAUS