English Version
ENGLISH
| Monday, 22 December 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Ratusan Pendekar Adu Kesaktian di Lirboyo
Jum'at, 09 Juli 2010 | 15:26 WIB
Ratusan Pendekar Adu Kesaktian di Lirboyo

TEMPO Interaktif, Kediri - Sedikitnya 300 pendekar silat Jawa Timur akan beradu kesaktian di Pondok Pesantren Lirboyo malam nanti. Mereka akan bertarung secara bebas dalam panggung Pencak Dor yang diselenggarakan Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi). Divisi Publikasi Peringatan Satu Abad Lirboyo Emha Nabil Haroen mengatakan pertandingan silat ini merupakan rangkaian kegiatan ulang tahun pondok. Selain menggelar seminar dan kegiatan sosial, panitia juga melestarikan budaya pencak silat yang sudah ada di kalangan santri sejak dulu kala. “Pondok ini dulu dikenal memiliki banyak pendekar silat,” kata Nabil kepada Tempo, Jumat (9/7). Salah satu pengasuh Pondok Lirboyo yang dikenal memiliki ilmu kanuragan tinggi adalah almarhum Kiai Djauhari Maksum atau yang lebih dikenal dengan Gus Maksum. Selain memiliki sikap rendah hati dengan ketinggian ilmu agama dan silat, Gus Maksum juga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat di luar pondok. Sifat itulah yang menurut Nabil diwariskan kepada keponakannya, Zainal Abidin atau Gus Bidin. Saat ini Gus Bidin memegang tampuk kepemimpinan Gasmi di Kediri karena ilmu kanuragan yang dimilikinya. “Beliau cukup disegani di kalangan pendekar silat,” kata Nabil. Untuk melanggengkan kultur tersebut, panitia peringatan Satu Abad Lirboyo mengundang seluruh pendekar silat dari berbagai perguruan untuk bertanding nanti malam. Panitia memasang panggung besar dari bambu setinggi lima meter di depan rumah pemimpin Lirboyo KH Idris Marzuki. Panggung yang dibentuk menyerupai ring tinju itulah yang akan menjadi ajang adu kesaktian para pendekar silat. Berbeda dengan kompetisi bela diri pada umumnya, tak ada peraturan sama sekali dalam pertarungan Pencak Dor ini. Setiap pendekar bebas mengeluarkan jurus mereka untuk mengalahkan lawan. Pertarungan yang hanya berlangsung lima menit itu hanya akan diawasi oleh seorang sesepuh Gasmi sebagai wasit. “Siapa saja bisa menantang petarung yang menang di atas panggung,” kata Nabil. Menariknya lagi, panitia juga tidak menyediakan honor maupun fasilitas kesehatan bagi para petarung. Mereka hanya diberi makan satu piring nasi di bawah panggung usai melakoni pertandingan. Demikian pula bagi petarung yang cidera seperti patah tulang atau keseleo akan disembuhkan oleh pendekar silat senior dengan cara tradisional.

HARI TRI WASONO