Bendungan yang mengalami penurunan daya tampung itu adalah Waduk Sengguruh, Sutami, Lahor, dan Selorejo di Kabupaten Malang. Bendungan Wlingi dan Lodoyo di Kabupaten Blitar. Bendungan Wonorejo di Kabupaten Tulungagung dan Bendungan Bening di Kabupaten Madiun.
Untuk menambah daya tampung kedelapan bendungan ini, Perum Jasa Tirta 1 melakukan pengerukan sendimentasi setahun sekali. Tetapi, hasil pengerukan ini tidak sebanding dengan kemunculan sendimentasi baru. "Lumpur yang masuk ke bendungan lebih besar daripada yang dikeluarkan," ujar Wahyu. Penyebab tingginya sendimentasi ini adalah karena adanya penurunan kualitas lahan di sekitar daerah aliran sungai Brantas yang menjadi sumber utama pemasukan air bendungan. Menurut Wahyu, banyak lahan kosong akibat penggudulan hutan atau berubah fungsi menjadi perumahan. Ini yang kemudian menyebabkan erosi yang lumpurnya kemudian terbawa masuk ke bendunganBeberapa data Perum Jasa Tirta 1 Malang menujukkan parahnya sedimentasi. Bendungan Sutami yang mulai beroperasi 1972 ini awalnya berkapasitas 342 juta meter kubik (M3), tetapi saat ini tinggal 174,6 juta M3 dengan laju sedimen 5,4 juta M3. Bendungan Selorejo yang dibangun 1970 awalnya berkapasitas 62,3 juta M3 turun menjadi 44 juta M3 dengan laju sedimen 0,55 juta M3. Bendungan Lahor dari kapasitas awal sebesar 36,1 juta M3 menjadi 31,3 juta M3 dengan laju sedimen 0,19 juta M3.
Bibin Bintariadi