English Version
ENGLISH
| Thursday, 02 October 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Sembuh dengan Terapi Pijat Telinga
Senin, 01 September 2008 | 16:28 WIB
Sembuh dengan Terapi Pijat Telinga

TEMPO Interaktif: Dilarang menjewer anak. Imbauan ini perlu dipahami para orang tua. Kenapa? Karena ternyata telinga memiliki titik saraf yang banyak sekali hingga layaknya telapak tangan dan kaki yang bisa jadi tempat pijat refleksi. Karena itu pula, selain buat mendengar, telinga diciptakan untuk menyembuhkan banyak penyakit.

Pengalaman sembuh dari sakit lewat pijat telinga tak akan dilupakan oleh Oei Gin Djing. Pada 1990-an, dia divonis lumpuh total oleh para dokter sejak tulang belakangnya hancur karena kecelakaan kendaraan yang dialaminya.

Walau begitu, dia yakin bisa sembuh. "Saya pijat beberapa saraf di daun kuping saya terus-menerus," kata ibu dua anak ini. Hasilnya, dalam waktu sebulan, dia sudah bisa memakai tongkat untuk berjalan, dan beberapa bulan kemudian, dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat. "Ini anugerah, saya masih boleh membantu orang lain."

Proses inilah yang membuat Gin Djing akhirnya tetap menjadi seorang akupunkturis, dan spesialisasinya, ya, memijat kuping tadi. Dengan mengetahui titik saraf yang hendak disembuhkan, seorang awam sekalipun, katanya, bisa melakukan pengobatan sendiri.

Makanya, dia cukup membuat buku dan menerima telepon bila sang pasien masih kurang mengerti. "Kalau dia baca buku, saya bisa guide dari sini," ujarnya, Rabu, 27 Agustus, lalu di rumah yang jadi tempat kliniknya di Sunter Indah Raya, Jakarta Utara.

Dalam pengobatan, menurut dia, yang penting, seseorang harus sabar dan yakin bisa sembuh. Apa yang dialaminya adalah bagian dari buah kesabaran dan ketekunan.

Gin Djing sendiri kepincut pada akupunktur sejak SD. Keahliannya itu sebagian bakat yang diwariskan oleh kakeknya yang seorang akupunkturis. "Saya cuma baca buku-buku kakek saya dan saya langsung tertarik," ujarnya. Kemudian dia belajar secara formal dan mendapat sertifikat nasional akupunktur pada 1987.

Dia mengembangkan pijat kuping dan menyebarluaskan metode pengobatan itu. "Biar semua orang bisa melakukan sendiri," kata dia. Cukup tahu titik mana yang berhubungan dengan organ yang sakit, hampir semua penyakit sudah pernah disembuhkan. Paling mudah, kata dia, penyakit yang lazim, seperti keseleo, sakit kepala, demam karena infeksi organ tubuh.

Tanda penyakit ini pun bisa dilihat langsung, misalnya sakit kepala di bagian dahi, bisa terlihat tonjolan pada daun telinga kanan, pada bagian bawah dekat daerah tindikan anting. Pijatan pada titik ini akan memberi efek langsung terasa pada dahi yang sakit.

Kalau di daerah lipatan atas daun kuping yang sama, tandanya ada masalah nyeri pada lengan. Rumus ini, menurut dia, sudah menjadi pedoman karena merupakan titik saraf. Rumus ini pun sudah dituangkannya dalam buku Terapi Pijat Telinga yang dituliskan pada 2006.

Akupunkturis kelahiran Semarang, Juni 1966, itu menilai, terapi jenis ini memang lebih sulit bila dibandingkan dengan pijat kaki atau tangan. Soalnya, titik yang diterapi tidak terlihat mata. Biasanya ini diatasi dengan cermin. Kelebihannya, kalau salah memijat titik saraf, tak ada efek samping. "Tapi biasanya kalau sakit, titik di daun telinga sudah terasa kalau disentuh, semakin sakit, semakin sensitif," kata dia.

Penyakit seperti gangguan lambung, hati, sinus, bahkan TBC, pernah disembuhkannya. Memang, semakin berat penyakit, harus semakin sabar dan rajin. Bila ingin lebih cepat, menurut dia, harus dilakukan dengan jarum. Karena titik saraf yang kecil bisa langsung terkena ketimbang dengan pijatan tangan. Biasanya, kata dia, pentol korek atau tusuk gigi yang ditumpulkan bisa membantu menemukan titik saraf yang kecil luasannya.

Menurut Angga, 23 tahun, pasiennya, Gin Djing bisa tahu penyakit yang sedang dideritanya walaupun dia tak bilang. Misalnya, saat levernya mengalami masalah, dia langsung dideteksi dengan disuruh meluruskan tangannya ke depan. "Mungkin auranya, ya," kata dia. Tak mengherankan, "dokter"-nya itu juga sering menyembuhkan orang tanpa tatap muka.

Jari tangannya yang bergetar adalah efek dari bekas gangguan levernya yang pernah sakit kuning pada masa kecil. Padahal, dia datang Rabu itu untuk meneruskan pengobatannya, mengurangi minus pada matanya. "Lumayan sudah kurang seperempat," katanya tentang pengobatan yang sudah dilakukan selama tiga bulan. Kupingnya pun ditusuk jarum untuk mempercepat proses perbaikan titik saraf levernya. Selain itu, tangannya yang bergetar pun ditusuk. Hasilnya, setelah lima menit, getarannya berkurang.

Anak kesembilan dari 10 bersaudara, yang lahir dengan telinga kanan tuli, itu ingin menyebarkan ilmu terapi telinga ini kepada semua orang. Sifat tomboi membuatnya mengalami banyak luka sejak kecil. Itu pun menjadi prosesnya mengetahui penyembuhan berbagai sakit yang dialaminya, seperti luka bakar, cedera patah tangan atau kaki.

Cedera itu salah satu yang dia dapatkan kala berlatih bela diri kegemarannya, taekwondo. Dengan bantuan pengobatan akupunktur dia bisa sembuh, termasuk kerusakan tulang belakangnya. Bisa mengobati diri sendiri membuatnya ingin menyebarkan manfaat terapi ini pada semua orang secara praktis. "Kalau bisa dilakukan sendiri, nggak perlu datang ke saya, kan," katanya.

Yophiandi