ENGLISH
| Friday, 24 May 2013 |
INDONESIA
Friday, 24 May 2013 | 13:35
It is urgent to build new oil refineries to reduce imports which
accounts for 55 percent of the total domestic demands.
Friday, 24 May 2013 | 13:11
Indonesian delegates of women doubles, Liliyana/Nitya Krishinda
Maheswari were outclassed by world number one doubles Yu
Yang/Wang Xiaoli.
Rabu, 27 Agustus 2008 | 09:13 WIB
Departemen Pertanian: Indonesia Tak Alami Krisis Pangan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Saat ini Indonesia tidak mengalami krisis pangan. Karena secara nasional, penyediaan energi dan protein relatif cukup dibandingkan standar kecukupan gizi. Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Achmad Suryana mengemukakan hal itu seusai membacakan pemaparan Menteri Pertanian pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi IX di Hotel Bidakara, Jakarta, hari ini. "Tapi, aksesibilitas masyarakat untuk mengakses pangan tidak merata," kata Achmad, Menurut dia, produksi pangan meningkat pesat setiap tahun, rata-rata laju peningkatan produksi komoditas pangan 2004-2008, seperti beras meningkat (2,6 persen), jagung (7,0 persen), kedelai (1,4 persen), ubi kayu (1,7 persen), minyak sawit, (18,4 persen), gula (21,9 persen), daging sapi (6,5 persen), daging ayam (17,4 persen), dan telur (9,2 persen). Produksi hasil perikanan meningkat 6,7 persen pertahun. Ketersediaan energi meningkat dari 3.005 kilokalori/kapita/hari pada 2004 menjadi 3.145 kilokalori/kapita/hari pada 2008. Begitu juga ketersediaan protein naik dari 76,22 gram/kapita/hari menjadi 83,28 gram/kapita/hari. Adapun data Badan Pusat Statistik 2008, penduduk miskin mencapai 35 juta jiwa. Agar warga miskin mendapat akses terhadap pangan, menurut Achmad, diperlukan pemberdayaan masyarakat miskin melalui unit usaha pedesaan dan program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri. Tahun ini, pemerintah menargetkan 11 ribu desa akan dikembangkan dalam program pengembangan agribisnis usaha pedesaan, 1.108 desa dalam program desa mandiri pangan, dan 237 desa dalam program pengembangan pertanian terpadu. Reh Atemalem Susanti

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.