English Version
ENGLISH
| Friday, 18 April 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Sabtu, 23 Agustus 2008 | 19:55 WIB
Agus Condro: Uang 500 juta tak berkah
TEMPO Interaktif, Jakarta- Pengakuan Agus Condro yang membuat pejabat teras Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI-P) gerah ternyata tak membawa berkah di keluarganya pula.

"Barang-barang yang saya beli dari uang itu sering rusak," ujarnya ketika dihubungi Tempo, Sabtu (23/8),"Usaha saya juga gagal." Agus mengakui menerima uang Rp 500 juta terkait pemilihan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur Senior BI 2004 oleh Komisi IX, dimana Agus sebagai salah satu anggotanya.

Ketika menerima uang itu, cerita Agus otak kampungnya langsung keluar. "Saya belikan mobil Mercy dan Hyundai." Kedua mobil tersebut merupakan keinginan terpendam. Agus merasa jengah pertama kali memegang uang Rp 500 juta. Sisa membeli mobil, agus diajak teman-teman dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) untuk budidaya cabai. "Eh tetep bangkrut, sampai pindah lahan pun juga tetep gagal."

Mobil Hyundai yang dibelinya tak lekang dari masalah. "Ya, AC-nya mati,mesinnya sering rusak," keluhnya. Sampai-sampai istrinya menyuruh untuk menjual. Namun Agus enggan karena ia merasa mobil ini nanti akan berguna.

Akumulasi itu-lah yang membuat ia berpikir ulang asal-usul uang yang tak jelas tersebut. "Sebenarnya sejak 2-3 tahun lalu saya mau ngomong soal uang ini." Niat itu tertunda,karena Agus merasa jika ia melaporkan bentuk gratifikasi ini ke KPK ia dianggap sok bersih dan mengadukan teman-temanya.

Akhirnya ketika dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi 4 dan 8 Juli lalu, Agus membeberkan ihwal uang tersebut. "Saya kan disumpah untuk bersaksi, jadi saya hanya katakan apa adanya."

Agus dipanggil bersaksi kasus Hamka Yamdu dan Anthony Zedra Abidin terkait aliran dana BI Rp 31.5 milyar.

Sekarang Agus merasa sedang membersihkan lumpur di kakinya. Menurut pengakuannya, perjalanan karirnya memang tak bersih. "Seperti jalan di pematang sawah dan terkena bercak lumpur, tapi belum sampai ke dengkul."

Dianing Sari