ENGLISH
| Thursday, 20 June 2013 |
INDONESIA
Thursday, 20 June 2013 | 02:05
Hundreds of people were killed and thousands displaced after heavy rains ravaged
the states of northern India.
Thursday, 20 June 2013 | 02:03
A Chinese former Communist Party official was sentenced to death for raping
underage girls.
Senin, 11 Agustus 2008 | 08:18 WIB
Perang Rusia-Georgia Picu Kenaikan Minyak
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak mentah pada perdagangan di New York, Amerika Serikat, Jumat (8/8) naik US$ 1,30 menjadi US$ 116,50 per barel. Kenaikan haga minyak dipicu kekhawatiran kurangnya persediaan minyak akibat konflik antara Rusia dan Georgia. "Apapun yang menyebabkan kerusakan fisik supply minyak di Eropa, itu akan menjadi masalah kritis. Jika itu berdampak pada Brent (minyak yang diperdagangkan di bursa London), maka akan berdampak besar pada pasar dan mendorong harga ke arah yang lebih tinggi," ujar Gerard Burg, ekonom energi dan mineral dari National Australia Bank Ltd, Melbourne, Australia, seperti dikutip Bloomberg. Harga minyak jenis Brent untuk pengiriman September naik US$ 92 sen atau 0,8 persen menjadi US$ 114,25 pada ICE Futures Europe akhir minggu lalu. Dampak dari invasi tersebut, pesawat jet Rusia menembakkan lebih dari 50 misil ke arah BP Plc, perusahaan yang mengoperasikan saluran pipa minyak Baku-Tblisi-Ceyhan di Selatan ibukota Georgia, Tbilisi. Menurut laporan Daily Telegraph kemarin, tidak ada kerusakan pada pipa tersebut. Pipa minyak Baku-Tblisi-Ceyhan telah ditutup pada 5 Agustus lalu setelah terjadi perang di selatan Turki itu. Sebelumnya, pipa itu menyalurkan sekitar 800 ribu barel minyak per hari ke pelabuhan Turki. Menurut Burg, jika persediaan terhenti atau konflik tersebut tidak mereda, harga minyak akan terus tertekan oleh kenaikan mata uang dolar AS dan akan memicu lonjakan pasar komoditi. SORTA TOBING

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.