Jum'at, 25 Juli 2008 | 21:57 WIB
Indonesia Masuk Radar OECD
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan delegasi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), di Kantor Presiden, Jumat (25/7) siang.
Pemerintah menyambut baik tawaran OECD memasukkan Indonesia dalam kategori Enhance Engagement atau bersama empat negara lainnya yaitu Cina, India, Brazil dan Afrika Selatan.
”Presiden mengundang kami untuk mendiskusikan kesimpulan, rekomendasi kebijakan dan juga mendiskusikan bagaimana kita dapat membangun kerjasama yang lebih dekat dan terstruktur antara Indonesia dan OECD,” kata Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria, dalam jumpa pers.
Angel didampingi oleh Direktur OECD Centre Eric Burgeat dan Senior Economist Indonesian Desk Luiz de Mello. Angel mengatakan menilai Indonesia perlu bergerak lebih gesit lagi untuk memaju pertumbuhan nasional mengingat perekonomian dunia makin terintegrasi.
"Maka salah satu upaya penting bagi Indonesia adalah bekerjasama intensif dengan empat negara yang masuk dalam kategori enhanced engangement," katanya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Indonesia mempunyai ruang yang lebih luas untuk bisa menjalin kerjasama. Sebab OECD ini memiliki data, statistik dan angka yang lengkap menyangkut perkembangan dunia, terutama perekonomian dunia.
"Mereka juga melakukan banyak sekali kajian-kajian kebijakan yang dilaksanakan di berbagai negara, negara maju dan negara berkembang, beserta keberhasilan dan kekurangannya,” kata Presiden dalam jumpa pers.
Presiden menegaskan, dengan diundangnya Indonesia dalam pertemuan KTT G 8 Plus 8 atau pertemuan puncak G 8 diperluas di Hokkaido, menunjukkan Indonesia sudah menjadi partner dunia internasional untuk membahas masalah-masalah perekonomian global, kerjasama, serta kemitraan global untuk menangani isu-isu aktual sekarang ini.
"Paling tidak Indonesia sudah masuk radar," katanya.
Presiden yang telah membaca ringkasan dari laporan OECD tersebut mengakui meskipun kemajuan Indonesia nyata dan signifikan, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Seperti mengurangi kemiskinan dan pengangguran, memperbaiki iklim investasi di Indonesia, kebijakan, regulasi dan lain-lain. "Sebagaimana pula ini juga isu yang dihadapi negara-negara berkembang yang lain,” tambahnya.
OECD, kata Presiden, sudah melakukan studi tentang isu-isu yang strategis seperti lingkungan, perdagangan, investasi, perpajakan, teknologi dan lain-lain. Dengan tawaran itu, lanjutnya, apalagi kalau Indonesia bisa aktif dalam komite-komite ditawarkan, berpartisipasi dalam Development Centre, akan manfaat.
"Ekonomi Indonesia pun terintegrasi dengan perekonomian global. Oleh karena itu sambil kita terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita, kita juga menggalang ekonomi yang membawa keuntungan terbesar bagi negeri kita,” ujarnya.
Ninin Damayanti