Kamis, 26 Juni 2008 | 00:40 WIB
Ayah Fauzi Pasrah Apapun Hasil Otopsi
TEMPO Interaktif, Kebumen: Muhammad Syahdi, ayah almarhum Maftuh Fauzi, mempercayakan apapun hasil pemeriksaan penyebab kematian anaknya kepada tim forensik.
“Dokter dengan disiplin ilmunya akan bekerja dengan profesional," katanya kepada Tempo kemarin di rumahnya di Desa Adikarto Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Bahkan, pria 55 tahun ini mengaku tak akan terpengaruh apapun hasil otopsi. "Wong anak saya sudah meninggal," ucap Syahdi.
Jasad Fauzi, 27 tahun, diotopsi tim forensik Universitas Diponegoro dan Universitas Jenderal Soedirman di Rumah Sakit Umum Daerah Margono, Kebumen, sebelum dimakamkan pada Sabtu pagi pekan lalu. Belakangan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, melakukan tindakan serupa sebagai pembanding.
Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Akademi Bahasa Asing Universitas Nasional (Unas) angkatan 2003 itu meninggal pada 20 Juli lalu di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. RSPP menyebutkan almarhum meninggal karena serangan virus sistemik dan terjangkit HIV. Tapi, dicurigai kematian Fauzi akibat luka di kepala akibat pukulan polisi dalam penyerbuan di kampus Unas pada 24 Mei silam.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutanto menegaskan Fauzi meninggal bukan karena dianiaya polisi. Menurut pemeriksaan RSPP, Rumah Sakit UKI, dan RSUD Margono Fauzi sudah lama mengidap masalah paru-paru dan penurunan daya tahan tubuh. Luka di kepalanya hanya berukuran 0,5x2 milimeter. Hasil rontgen pun tak menunjukka pendarahan otak dan tulang rusak.
Namun, tujuh setengah tahun lalu Fauzi menggunakan narkoba dan pernah ditahan di Markas Polres Depok. "Ia sempat divonis,” ujarnya di Markas Besar Polri kemarin. Mawardi, paman almarhum, membenarkan keponakannya pernah kena kasus narkoba. “Mungkin awal 2000,” ucapnya. Ia mengaku tak tahu jenis narkoba yang dikonsumsi dan apakah menggunakan jarum suntik.
Jobpie Sugiharto | Aris Andrianto | Desy Pakpahan | Suseno