Jum'at, 20 Juni 2008 | 02:20 WIB
Pembangkit Borang Diperbaiki di Selandia Baru
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Truck Mounted (TM 2500) Borang di Palembang, Sumatera Selatan, kembali bermasalah. Sejak Maret 2008, pembangkit yang dibeli senilai US$ 27 juta sudah tidak beroperasi akibat kerusakan parah pada mesin pembangkit.
Direktur Utama PT Cogindo Sumber Daya Djoko Pararto mengatakan, pihaknya saat ini sedang memperbaiki mesin pembangkit di luar negeri. "Sekarang sedang diperbaiki di Selandia Baru," ujarnya kepada Tempo, Kamis (19/6). Biaya perbaikian mesin menelan biaya sekitar US$ 2,062 juta atau Rp 18,6 miliar.
Menurut Djoko, pihaknya adalah perusahaan yang ditugasi kontrak oleh PT PLN (Persero) untuk mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan Pembangkit Borang. Semua biaya perbaikan, kata dia, akan dibebankan kepada PLN sebagai pemilik pembangkit.
PT Cogindo Sumber Daya merupakan anak perusahaan dari PT Indonesia Power. Sedangkan Indonesia Power adalah anak perusahaan dari PLN yang mengelola sejumlah pembangkit listrik.
Informasi yang diperoleh Tempo menyebutkan, biaya perbaikan PLTG Borang sekitar US$ 2,062 juta atau Rp 18,6 miliar. Biaya tersebut terdiri dari perbaikan kebocoran oli (oil leakage), kerusakan bearing dan perbaikan peralatan (common).
Dalam surat tersebut disebutkan biaya perbaikan oil leakage senilai US$ 54.000 atau Rp 502 juta ditanggung PT Guna Cipta Mandiri, perbaikan bearing US$ 82.000 atau Rp 762 juta ditanggung PT Cogindo DayaBersama dan biaya common US$ 1,307 juta atau Rp 12,09 miliar.
Sebagai kontraktor, Guna Cipta Mandiri harus menanggung biaya perbaikan oil leakage dan biaya common sebesar US$ 573.060. Sedangkan Cogindo Daya Bersama, harus menanggung biaya mencapai US$ 1,489 juta atau Rp 13,8 miliar.
Djoko menjelaskan, kerusakan Pembangkit Borang sangat parah. "Karena ada kebocoran oli pada mesin. Kalau dibiarkan bisa merusak pembangkit," katanya. Kerusakan mesin tersebut, kata dia, tidak bisa diperbaiki di dalam negeri. "Tempat perbaikan mesin pembangkit hanya bisa di General Electric dan tempat terdekat hanya di Selandia Baru. Kalau ke Amerika kejauhan," ujarnya.
Menurut Djoko, kemungkinan Juli mendatang mesin pembangkit yang rusak sudah selesai diperbaiki. "Mudah-mudahan bisa langsung dipasang di Borang," katanya. Dia menambahkan, pihaknya diserahi oleh manajemen PLN untuk melakukan pengoperasian dan pemeliharaan Pembangkit Borang sejak tahun lalu.
Sumber Tempo di perusahaan listrik milik pemerintah itu mengatakan, PLTG Borang tidak akan pernah bisa dioperasikan secara maksimal. Alasannya, karena mesin pembangkit merupakan barang bekas dan sering rusak.
Menurut dia, dari sisi bisnis pengoperasian Pembangkit Borang tidak akan pernah menguntungkan. "Biaya pembeliannya saja sudah digelembungkan dan sekarang biaya pengoperasian juga mahal," katanya. Pembangkit Borang, kata dia, merupakan proyek rugi yang dipaksakan oleh manajemen PLN.
ALI NUR YASIN