ENGLISH
| Sunday, 26 May 2013 |
INDONESIA
Saturday, 25 May 2013 | 06:20
This exhibition is aimed at increasing the cultural ties between

Yogyakarta and NTT in order to rid NTT's poor image of being

initiators of violence.
Saturday, 25 May 2013 | 05:26
Tourism villages still lack facilities and infrastructure and

have difficulties asking for aid from the government.
Senin, 16 Juni 2008 | 14:31 WIB
Pemerintah Akan Fasilitasi Pencarian Minyak Mentah Untuk Selayar
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah berjanji akan memfasilitasi pencarian bahan baku minyak mentah untuk kilang pengolahan yang akan dibangun di Selayar, Sulawesi Selatan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Luluk Sumiarso mengatakan hal ini untuk mendorong terwujudnya swasembada Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga impor BBM berkurang. “Kami akan fasilitasi supaya mereka (investor) bisa jalan,” kata Luluk di Jakarta, Senin (16/6). Kilang Selayar rencananya akan dibangun PT Hemoco Selayar Internasional, perusahaan minyak asal Kuwait. Peresmian proyeknya sudah dilakukan ketika BJ Habibie menjadi Presiden RI namun hingga kini masih terkatung-katung. Proyek ini sempat terhambat masalah izin Analisis Dampak Mengenai Lingkungan (AMDAL) pada 2005. Kini, pembangunan kilang tersebut terganjal masalah pasokan bahan baku minyak mentah. Padahal, kilang ini diharapkan dapat memasok kebutuhan premium, solar, dan minyak tanah dalam negeri, khususnya di Kawasan Timur Indonesia. Perusahaan minyak asal Qatar, Aramco, telah menyatakan akan memasok bahan baku minyak mentah 200-300 ribu barel per hari, yang bisa diolah menjadi premium, solar dan minyak tanah sekitar 280 ribu barel per hari. Namun perjanjian pasokan minyak mentah dengan Qatar hanya berupa nota kesepahaman. Sementara ABN Amro selaku lembaga pendanaan meminta kepastian pasokan minyak mentah dalam jangka panjang. ABN AMRO memberikan dukungan pendanaan senilai US$ 5 miliar (sekitar Rp 46,5 triliun). Nieke Indrietta

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.