Saturday, 18 May 2013 | 19:50

Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Saturday, 18 May 2013 | 17:14

French is the 14th country that legalizes same-sex marriage.
Kamis, 12 Juni 2008 | 18:35 WIB
Kaum Perempuan Sokong Obama
TEMPO Interaktif, WASHINGTON:Kandidat kuat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Senator Barack Obama, Selasa (12/6), meraup dukungan dari calon pemilih perempuan yang dalam pemilihan pendahuluan (primary) menyokong Senator Hillary Clinton. Dukungan itu serta merta mendongkrak popularitas Obama atas calon Republik John McCain.
Hasil survei yang digelar Gallup terhadap 2.263 responden pada 5-9 Juni, menyebut senator dari Illinois berumur 46 tahun itu unggul 13 poin dari senator Arizona berumur 71 tahun tersebut di kalangan calon pemilih perempuan. Obama disokong 51 persen sedangkan McCain hanya 38 persen saja.
Padahal menurut Gallup sepekan lalu selisih dukungan suara keduanya cukup dekat, yakni 48-43 persen. Begitu pula dukungan yang diberikan perempuan paruh baya dan menikah. Jika semula komposisinya 52 persen untuk McCain dan 40 persen untuk Obama maka kini 45-45. Adapun perempuan belum menikah mendukung Obama.
Perubahan komposisi itu, menurut Gallup, lantaran Hillary, rival kuat Obama di Demokrat, mundur dan menyatakan mendukung juniornya tersebut. "Setelah Nyonya Clinton tak lagi berkampanye, sejumlah kalangan perempuan mulai melirik Obama," demikian dikatakan Gallup.
Debbie Wasserman, anggota parlemen dari Florida punya segudang alasan mengapa kaum perempuan mulai beralih dari McCain ke Obama. Kata anggota Partai Demokrat ini McCain dalam kampanyenya tidak mendukung sekolah untuk balita, menolak aborsi, dan menampik rancangan undang-undang kesetaraan upah.
"John McCain berbahaya untuk perempuan," tuturnya. Tapi, Brian Rogers, juru bicara McCain berpendapat lain. Rogers justru mengklaim bahwa para perempuan pendukung Hillary kini beralih ke McCain. Alasannya, kata Rogers,"Senator McCain sebagaimana Hillary sangat berpengalaman dalam isu-isu keamanan nasional."
| AP | AFP | USATODAY | ANDREE PRIYANTO