, 19 May 2013 | 17:59

Yahoo CEO Marissa Mayer is trying to revitalize the company from
the financial issues
, 19 May 2013 | 17:58

A hacker has just hacked the Indonesian Police' Legal Division
website.
Selasa, 03 Juni 2008 | 07:34 WIB
Maskapai Penerbangan Diprediksi Merugi Hingga US$ 2,3 Miliar
TEMPO Interaktif, Istanbul:Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) memperkirakan industri penerbangan akan merugi US$ 2,3 miliar pada tahun ini akibat melonjaknya pengeluaran untuk bahan bakar pesawat.
"Industri penerbangan memasuki situasi krisis," kata Sekretaris Jenderal IATA Giovanni Bisignani di Istanbul Turki, Senin (2/5) waktu setempat.
IATA (The International Air Transport Association) beranggotakan sekitar 240 perusahaan pengangkutan udara yang menguasai 94 persen pasar penerbangan dunia.
Pada April 2008, industri penerbangan diperkirakan akan menangguk untung US$ 4,5 miliar (2,9 miliar euro). Namun, harga minyak dunia yang merangkak naik hingga US$ 135 per barrel membuat biaya operasional meroket.
Setelah mengalami kerugian sekitar US$ 40 miliar pasca serangan September 11 di Amerika Serikat pada 2001 lalu, industri penerbangan berhasil melakukan recovery dan berhasil membukukan laba US$ 5,6 miliar tahun lalu.
Bisignani memperingatkan kerugian industri pada tahun ini bisa mencapai US$ 6,1 miliar jika harga minyak tetap berada di sekitar US$ 135 per barrel. Perkiraan rugi US$ 2,3 miliar dihitung berdasarkan rata-rata harga minyak US$ 106,5 selama tahun 2008.
Bahkan beberapa maskapai penerbangan kemungkinan tidak mampu melanjutkan usaha. "24 perusahaan penerbangan mengalami kebangkrutan dalam enam bulan terakhir," ujar dia.
Kepala perwakilan penerbangan Inggris EasyJet di Jerman John Kohlsaat mengatakan tingginya harga minyak mendorong terjadinya kebangkrutan perusahaan penerbangan di Eropa.
"Beberapa perusahaan di Eropa akan keluar dari bisnis ini," kata Kohlsaat kepada harian Der Tagesspiegel yang dipublikasikan Senin (2/5). Dia melanjutkan bahwa secara teori 50 perusahaan sudah berada pada kondisi yang membahayakan.
Kohlsaat mengemukakan beberapa perusahaan penerbangan sudah mendapat pukulan telak dari meroketnya biaya untuk bahan bakar sehingga tergelincir ke zona merah.
AFP, Eko Nopiansyah