ENGLISH
| Sunday, 19 May 2013 |
INDONESIA
, 19 May 2013 | 09:26
Ahmad Fathanah confusingly changes his confessions on trial,
giving biased answers
Saturday, 18 May 2013 | 19:50
Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Senin, 02 Juni 2008 | 08:50 WIB
Idiologi FPI Tidak Cocok Dipraktekan di Indonesia
TEMPO Interaktif, SEMARANG: Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah Abu Hapsin menilai, idiologi Front Pembela Islam (FPI) yang menggunakan kekerasan dalam perjuangannya sungguh sangat tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. "Negara Indonesia bukan negara agama tapi berdasarkan pancasila," kata Abu Hapsin kepada Tempo di Semarang hari ini (Senin,2/6). Abu menyatakan, negara Indonesia merupakan negara majemuk dan plural yang berisi berbagai ajaran dan keyakinan. "Warga Indonesia tidak bisa disatukan agamanya, seperti keinginan FPI," kata Abu Hapsin. Abu mengatakan, tindakan FPI yang menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Ahad lalu sungguh merupakan tindakan yang biadab, brutal, dan harus dikecam. Abu menyatakan, di dalam ajaran Islam tidak ada ayat yang mengajarkan kekerasan dalam melakukan perjuangan. Sebaliknya, kata Dosen IAIN Walisongo ini, Islam justru mengajarkan kedamaian dan kasih sayang. Abu Hapsin menyatakan, FPI telah salah menampatkan kekerasan pada tempatnya. Abu meminta agar para aktivis FPI melihat kembali ajaran Islam dan hukum yang berlaku di Indonesia. Menurut Abu, kalau memang FPI tidak menginginkan keberadaan Ahmadiyah maka mereka hanya cukup menyatakan bahwa Ahmadiyah berada di luar Islam. Bukan malah melakukan kekerasan yang bisa menimbulkan korban jiwa. Abu mengatakan, jika FPI bersama laskar-laskarnya terus menerus melakukan tindakan kekerasan maka pemerintah wajib hukumnya membubarkan FPI. "Tidak ada gunanya memelihara organisasi yang selalu meresahkan," ujarnya. Rofiuddin

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.