Saturday, 25 May 2013 | 06:20

This exhibition is aimed at increasing the cultural ties between
Yogyakarta and NTT in order to rid NTT's poor image of being
initiators of violence.
Saturday, 25 May 2013 | 05:26

Tourism villages still lack facilities and infrastructure and
have difficulties asking for aid from the government.
Rabu, 05 Maret 2008 | 18:34 WIB
Sembilan Menteri Pendidikan Bahas Buta Aksara
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sembilan Menteri Pendidikan dari negara dengan jumlah penduduk di atas 10 juta akan bertemu di Bali 10-12 Maret.
Dalam pertemuan yang rencananya akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut akan hadir sembilan menteri dari India, Cina, Indonesia, Brazil, Meksiko, Nigeria, Mesir, dan Pakistan.
Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Baedhowi, 70 persen jumlah buta aksara di dunia ada di 9 negara peserta E-9 ministerial meeting.
"Karena itu, pertemuan 9 negara yang berlangsung sejak 1993 ini menjadi sangat penting karena menjadi tonggak kerjasama multilateral dalam bidang pendidikan," ujar Baedhowi.
Dalam pertemuan ke-7 di Bali, delegasi Indonesia akan dipimpin langsung Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo. Setiap menteri akan berbagi pengalaman mengenai kebijakan popular di tiap negara diantaranya menyangkut profesi guru, pendidikan anak usia dini (PAUD), wajib belajar 9 tahun, kesetaraan gender, mutu pendidikan serta buta aksara.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal mengakui perlunya peningkatan mutu pendidikan buta aksara di Indonesia. Indonesia, lanjut dia, masih kalah jika dibandingkan Cina yang sudah memelekaksarakan 80 persen dari warga buta aksaranya.
"Angkanya saya tidak tahu pasti, tapi keberhasilan Cina itu sangat berpengaruh pada peta global pendidikan dunia. Kita sendiri memang masih nomor dua setelah Cina dalam peta pemberantasan buta aksara, tapi hal itu sudah cukup mengesankan negara-negara maju anggota UNESCO, " jelas Fasli. Reh Atemalem Susanti