ENGLISH
| Saturday, 18 May 2013 |
INDONESIA
Saturday, 18 May 2013 | 19:50
Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Saturday, 18 May 2013 | 17:14
French is the 14th country that legalizes same-sex marriage.
Kamis, 24 Januari 2008 | 14:58 WIB
Demokratisasi di Indonesia Gagal Tekan Korupsi
TEMPO Interaktif, Denpasar:Proses transisi demokrasi di Indonesia telah gagal menekan korupsi. Korupsi bahkan menyebar ke daerah-daerah bersamaan dengan proses desentralisasi. Penyebab utama kegagalan adalah pembajakan lembaga-lembaga publik oleh figur-figur yang dibesarkan oleh Orde Baru. Kesimpulan itu dinyatakan Dr Vedi R Hadiz dalam Workshop “Combatting Corruption in Democratic Transition” di Sanur, Denpasar, Kamis (24/1). “Reformasi dilakukan setengah hati sekedar untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional akan adanya perubahan,” kata pengajar di National University of Singapore ini. Meski sejumlah mantan pejabat telah dimasukkan penjara, menurut dia, korupsi masih sangat kronis dan endemik. Bila ditelisik lebih jauh, lembaga legistatif, eksekutif dan yudikatif seluruhnya masih dikuasai oleh sisa Orba. “Tanyakan kepada mereka, apa yang dilakukan 10 tahun lalu,” kata Verdi. Kekuatan mereka kian tak terbendung setelah era demokratisasi diterapkan ke daerah-daerah melalui desentralisasi dan Pilkada langsung. “Mereka memiliki semua kekuatan untuk menang mulai dari uang, preman dan jaringan politik,” tegasnya. Workshop itu digelar menyongsong pertemuan United Nations Convention Againts Corruption yang akan berlangsung di Nusa Dua, Bali pada 27 Januari hingga 2 Februari. Rofiqi Hasan

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.