Wednesday, 19 June 2013 | 00:52

The Setu Babakan has received a grant of Rp291 billion from Jakarta Governor Joko
Widodo.
Wednesday, 19 June 2013 | 00:47

Prison walls have not restricted Muhammad Nazaruddin from running his
numerous business.
Kamis, 17 Januari 2008 | 15:24 WIB
Merawat Kenangan A.A.M. Djelantik
Pria berjubah dengan jenggot putih nan lebat tampak
asyik mengamati seorang anak laki-laki di pangkuannya. Tangannya teracung ke sebuah titik hitam di leher anak yang kelihatan gugup dan erat memegang bola plastik merah itu. Sang ayah lalu ikut-ikutan asyik mencermati tahi lalat yang ditunjuk pria berpenampilan bak pertapa itu.
Sepenggal adegan itu terekam dalam lukisan pastel
berjudul Penemuan Tahi Lalat karya budayawan Bali, Dr A.A. Made Djelantik (almarhum). Bersama 14 karya lainnya, lukisan itu kini tersimpan di Museum Agung Rai, Ubud, tepatnya di ruang Djelantik, yang diresmikan pada Rabu malam, pekan lalu.
Menurut salah satu putrinya, Dr dr A.A.A. Bulantrisna, secara periodik akan dilakukan penggantian lukisan dengan karya-karya Djelantik yang lain. "Ini kami lakukan untuk merawat kenangan tentang beliau," ujar penari terkenal itu. Sebelumnya lukisan-lukisan yang seluruhnya berjumlah 60 buah tersebut menjadi ilustrasi buku Againts All Odds - The Strange Destiny of A Balinese Prince oleh Idanna Pucci.
Lukisan Djelantik tergolong unik. Sebab, seluruhnya
merupakan rekaman kehidupan nyata sebagai pangeran di Kerajaan Karangasem hingga semasa karier profesionalnya sebagai dokter dan budayawan.
Diberikannya ruangan khusus untuk karya Djelantik,
menurut pemilik Museum Arma, A.A. Rai, karena karya-karya tersebut juga mencerminkan perkembangan kebudayaan di Bali. Itu terlihat dari berbagai mitologi dan kisah-kisah seputar Kerajaan Karangasem yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Bali dan Lombok.
"Kehidupan beliau juga sangat unik dan dramatis,"
dia menyebutkan. Sebab, Djelantik adalah orang Bali pertama yang mengambil sekolah kedokteran di Belanda, yang terdapat banyak benturan budaya.
ROFIQI HASAN