ENGLISH
| Thursday, 23 May 2013 |
INDONESIA
Thursday, 23 May 2013 | 14:09
The issue of internet security becomes the main issue addressed in the second
Stockholm Internet Forum in Sweden.
Thursday, 23 May 2013 | 13:30
Manchester City plans to invest in Indonesian clubs, regulation
is needed regarding this, said Roy Suryo
Kamis, 10 Januari 2008 | 21:14 WIB
Presiden Terima Penghargaan Dari Kerajaan Malaysia
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis(10/1) malam, akan menerima penghargaan Bintang Kehormatan Malaysia Darjah Seri Mahkota Negara dari Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong XIII Malaysia Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizal Zainal Abidin Ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah, di Ruang Dewan Kecil, Istana Negara, Kuala Lumpur. "Sebelumnya kita memberikan penghargaan pada raja Malaysia dan Pak Badawi, tentu saja mereka melakukan hal serupa memberikan penghargaan tertinggi pada Presiden Yudhoyono," kata Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, sebelum berangkat ke Malaysia di Bandara Halim Perdanakusuma. Menurut Andi, penghargaan tersebut hal yang biasa dalam tata hubungan internasional dua negaraini. "Ini adalah bagian dari tata hubungan internasional yang bersifat resiprokal," ujarnya. Presiden Yudhoyono dan rombongan bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma untuk mengadakan kunjungan kenegaraan selama tiga hari di Malaysia. Selain menerima penghargaan, Presiden juga bertemu dengan Nirmala Bonat, Tenaga Kerja Indonesia yang disiksa majikannya di Malaysia. Hari kedua kunjungan, Presiden dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di gedung Putrajaya Malaysia. Mereka juga akan mengadakan pertemuan Konsultasi Tahunan antara Indonesia-Malaysia dan diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman dibidang Komite Perdagangan dan Investasi bersama yang akan ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan Malaysia Rafidah Aziz. Penerimaan gelar itu sangat disayangkan oleh Alex Ong, salah satu aktivis Migrant CARE di Malaysia. Menurut Alex, penghargaan itu diberikan hanya pada raja-raja yang taat dan memberi upeti pada kerajaan Malaysia. "Indonesia bukan bagian Malaysia, malah dulu Malaysia yang membayar upeti ke Majapahit," kata Alex pada Tempo. Menurut Alex, Presiden Yudhoyono seharusnya menolak pemberian gelar tersebut. Selain Yudhoyono, lanjut dia, raja Brunai pernah mendapat penghargaan serupa. "Kalau mereka dulunya memang bagian dari Malaysia," ujarnya. Namun, pernyataan Alex tersebut di bantah Nizamuddin Dosen Politik dari Universitas Kebangsaan Malaysia. "Gelar itu hanya diberikan pada orang-orang yang dianggap berjasa pada kerajaan," kata Nizamuddin. Menurut dia, ada tiga tingkatan gelar kehormatan yang diberikan raja Malaysia. Gelar tertinggi Tun diikuti Tan Sri, dan Datuk. Tercatat Wakil Presiden Adam Malik pernah mendapat penghargaan tertinggi Malaysia Tun Adam malik. Sutarto | Faisal

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.