ENGLISH
| Tuesday, 21 May 2013 |
INDONESIA
Tuesday, 21 May 2013 | 01:36
A US military aircraft made an emergency landing at the Sultan Iskandar Muda
Airport, Aceh.
Tuesday, 21 May 2013 | 01:28
Liga Super Indonesia prohibits the participation of foreign players from 13
countries in the local competition, citing administrative disturbances.
Kamis, 03 Januari 2008 | 21:53 WIB
Penanganan Banjir Jakarta Tunggu Instruksi Presiden
TEMPO Interaktif, Jakarta: Konsep penanganan banjir DKI Jakarta masih menunggu penekenan instruksi presiden. Dalam konsep itu pemerintah juga mengatur penanggulangan banjir secara nasional. Menurut Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane Departemen Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio, instruksi presiden itu telah dikirim ke Sekretariat Negara pada 12 April 2007. "Sampai sekarang belum ada kabarnya lagi," ujarnya kepada Tempo di ruangannya, Kamis (3/1). Ia menjelaskan bahwa dalam instruksi itu terdapat konsep penanganan banjir Jakarta yang meliputi jembatan Kalibata yang nyaris hanyut dalam banjir tahun lalu. "Kalibata dan penanganan banjir lainnya sudah ada dalam konsep rencana instruksi presiden," jelas dia. Menurut Pitoyo, jembatan Kalibata dan Casablanca rawan hanyut akibat arus banjir yang melintas di bawahnya. Penyebabnya, tumpukan sampah yang menyangkut di bagian bawah jembatan. "Sampahnya luar biasa," katanya. Bahkan, ia melanjutkan, tumpukan sampah di Sungai Ciliwung yang melintasi Kalibata bisa dilalui dengan berjalan kaki. Hal ini tak terjadi di 1980an. Ketika itu, kata dia, Sungai Ciliwung masih digunakan untuk menghanyutkan bambu dari Bogor. Artinya, debit air sungai masih cukup dan tak ada sampah. Bantaran Ciliwung yang membentang dari Kampung Melayu hingga Manggarai, didiami 71 ribu kepala keluarga atau 350 ribu jiwa. Pitoyo mengatakan, masyarakat yang tinggal di bantaran kali kerap menyulitkan pihaknya untuk memelihara infastruktur, salah satunya Cakung Drain yang dibuat pada 1980an. "Kalau mau operasi dan pemeliharaan, satu-satunya jalan harus masuk lewat laut dengan kapal keruk," jelasnya. Ia juga meluruskan kesalahpahaman di masyarakat mengenai bendungan Katulampa. "Katulampa bukan segalanya. Jika jebol, tak ada pengaruhnya sama sekali ke Jakarta," tegas dia. Bendungan itu, lanjut dia, berfungsi untuk meninggikan elevasi muka air agar bisa dialirkan ke areal persawahan. Fungsi ini berbeda dengan waduk yang digunakan untuk menampung air. "(Waduk) jebol, wassalam." Kesalahan yang lain yakni istilah "banjir kiriman". "Salah kaprah," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa air, secara alamiah, mengalir mengikuti gravitasi, dari daerah tinggi ke rendah. "Air dari atas memang harus ke Jakarta," kata dia. Masalahnya, lanjutnya, daerah Jakarta berbentuk cekungan sehingga air yang masuk harus dikeluarkan dengan pompa. Saat ini Ciliwung berada dalam siaga tiga dengan elevasi tertinggi 830 cm. Pitoyo mengatakan bahwa banjir tahun ini lebih berbahaya ketimbang sebelumnya. Pasalnya, banjir disebabkan oleh curah hujan tinggi dan naiknya muka air laut. "Kondisinya berbahaya. Mau buang (air) ke laut tapi tak bisa," katanya. Rieka Rahadiana

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.