Wednesday, 22 May 2013 | 19:01

Khofifah informed that several political parties have been
offered with kickbacks in exchange for their supports.
Wednesday, 22 May 2013 | 18:52

Banten Provincial Governor plans to use the Regional Budget to
fund the pilgrimage of 200 people, receiving support from
religious leaders
Senin, 17 Desember 2007 | 17:29 WIB
Bupati Garut Mulai Diadili
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tersangka kasus dugaan korupsi Bupati Garut, Jawa Barat Agus Supriadi mulai diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin (17/12).
Agus didakwa melakukan tindak pidana korupsi memperkaya diri sendiri yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 10,8 miliar. Agus didakwa primer pasal 2 ayat 1 dan subsider pasal 3 Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi .
Jaksa menilai Agus memperkaya diri sendiri karena menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Garut Tahun Anggaran 2004-2007 dan Dana Bantuan Propinsi Jawa Barat. Dana tersebut digunakan Agus untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, seperti cicilan, pembelian rumah dan pembelian mobil Nissan X - Trail.
Dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mochamad Rum, Riyono, Siswanto dan Andi Suharlis ini langsung dijawab terdakwa dengan eksepsi yang menyatakan bahwa dakwaan Jaksa tidak berdasar. Terdakwa beralasan, penyidik tidak bisa memberikan kesaksian dan bukti perkara yang telah didakwakan kepadanya.
"Sebagai bupati saya bukan pengguna anggaran untuk tahun anggaran 2004-2006, sebab ketika diangkat menjadi bupati saya telah mengangkat pengguna anggaran," ujar Agus di dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Mansyurdin Chaniago.
Agus juga menyatakan tuntutan terhadap penurunan dirinya yang melibatkan aksi demonstrasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Terdakwa menduga ada keterlibatan aksi politik dalam perkara yang didakwakan kepadanya.
"Begitu hebatnya aksi demonstrasi tersebut sehingga Solichin GP selaku bekas Gubernur Jawa Barat ikut-ikutan, perkara saya penuh dengan rekayasa dan perkara politik," ujarnya.
Cheta Nilawaty