English Version
ENGLISH
| Wednesday, 16 April 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Wednesday, 16 April 2014 | 12:52
Consumers to Enjoy Ford Ecosport This Month The Managing Director of PT Ford Motor Indonesia, Bagus Susanto,
says consumers who ordered the car in January will soon enjoy
their cars.
Wednesday, 16 April 2014 | 12:28
New Reservoirs in Jakarta to Be Operational The new reservoirs are of Jakarta administration measures to
mitigate floods, public works agency head says.
Kamis, 22 November 2007 | 03:46 WIB
Bank Indonesia Waspadai Harga Minyak
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia mengantisipasi kebijakan moneter ke depan dengan penuh kewaspadaan. Menurut Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Made Sukada, sikap hati-hati perlu terus dilakukan untuk meminimalkan tekanan inflasi sebagai dampak dari terus melambungnya harga minyak, yang kini mendekati US$ 100 per barel. Made mengatakan dampak lonjakan harga emas hitam adalah tingginya tekanan pada laju inflasi. Sebab, kenaikan itu mendorong kenaikan harga barang kebutuhan lainnya. "Maka ini sangat perlu diwaspadai," tuturnya kepada Tempo kemarin. Terlebih, ujar dia, volatilitas harga minyak dunia cukup tinggi. Minyak dunia secara bertahap bisa turun drastis, tapi kemudian bisa naik lagi. "Situasinya penuh ketidakpastian," ujarnya. Made menambahkan, kehati-hatian bank sentral dalam menanggapi tren harga minyak dunia sudah tampak dalam kebijakan moneter terakhir pada Oktober lalu. Saat itu Bank Indonesia memutuskan menahan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) pada posisi 8,25 persen. "Kami akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia ke depan," ujarnya. Apakah itu berarti bank sentral akan tetap menahan BI Rate 8,25 persen pada Desember? Made enggan menjawab. "It's too early," ucapnya singkat. Made hanya memastikan bahwa imbas naiknya harga minyak dunia terhadap inflasi nasional belum mengkhawatirkan. Inflasi tahun ini ataupun tahun depan diyakini masih dalam koridor target Bank Indonesia, yakni masing-masing sebesar 6 plus minus 1 persen dan 5 plus minus 1 persen. Ekonom Citigroup, Anton Gunawan, pun sependapat kenaikan harga minyak belum banyak berpengaruh terhadap inflasi. "Efeknya ada, tapi tidak terlalu besar," kata dia. Menurut dia, inflasi tak akan naik tajam hingga dua digit seperti tahun 2005 karena janji pemerintah tak menaikkan tarif dasar listrik dan bahan bakar minyak bersubsidi. Dia memperkirakan tahun ini inflasi bakal berada di kisaran 6,5-6,6 persen. Sedangkan tahun depan inflasi berkisar 7 persen. Anton menilai efek harga minyak dunia secara langsung pada industri belum secara signifikan diikuti oleh kenaikan harga-harga barang. Produsen dari industri manufaktur pun, menurut dia, belum terlihat melakukan penyesuaian karena kenaikan harga minyak baru terjadi mulai Oktober-November. Dia lebih menyarankan Bank Indonesia mewaspadai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dalam jangka pendek adalah kurs. "Bank Indonesia perlu menjaga agar rupiah lebih kuat di 9.100," kata Anton. Pandangan berbeda disampaikan oleh ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan. Menurut dia, kenaikan harga minyak secara otomatis akan menekan inflasi. Kalangan industri pun pasti akan menaikkan harga barang karena ongkos produksi mereka naik. "Konsekuensinya, ada kemungkinan Bank Indonesia memangkas tingkat bunga semakin kecil," kata Fauzi. Pada Desember nanti, Fauzi memprediksi Bank Indonesia akan kembali menahan BI Rate 8,25 persen. Pada triwulan pertama 2008, menurut dia, bank sentral itu mulai menurunkan suku bunga acuan tersebut. AGOENG WIJAYA | AGUS SUPRIYANTO