Selasa, 10 Juli 2007 | 03:13 WIB
Investasi Industri Kimia Dasar Melonjak
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sektor industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi tercatat mendominasi realiasi investasi selama semester pertama 2007. Total investasi sektor tersebut mencapai US$ 1,53 miliar (sekitar Rp 13,8 triliun) dengan 20 proyek. Angka tersebut menyumbang 37 persen dari total realisasi investasi asing yang dicatat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleokimia Kris Hadisoebroto mengatakan, investasi di sektor kimia sedang naik daun belakangan ini. "Dengan maraknya green energy, maka investasi industri biodiesel makin tumbuh. Tak terkecuali di Indonesia yang merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia," ujarnya kepada Tempo, Senin (9/7).
Secara keseluruhan, BKPM mencatat investasi asing selama semester pertama tahun ini mencapai US$ 4,1 miliar (sekitar Rp 36,9 triliun). Angka ini naik 16,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$ 3,51 miliar (sekitar Rp 31,59 triliun).
Investasi asing ini menyumbang hampir 57 persen dari total investasi di dalam negeri yang nilainya sebesar Rp 65,27 triliun. Sedangkan 43 persen investasi datang dari dalam negeri sebesar Rp 28,37 triliun.
Lebih jauh, Kris menyatakan, selain industri biodiesel, industri fatty alcohol-bahan pembuat kosmetik - juga mencatat pertumbuhan investasi yang cukup besar. "Kedua jenis industri kimia itu mencakup investasi baru dan perluasan dari industri eksisting," tuturnya.
Namun begitu, Kris menyebutkan hingga kini masih ada dua masalah utama dalam industri kimia, seperti: infrastruktur dan ketersediaan gas. "Indonesia masih belum punya fasiltas pergudangan khusus untuk hasil industri yang sifatnya likuid (liquid handling port). Dengan dibukanya ASEAN Free Trade Area (kawasan perdagangan bebas ASEAN), maka Indonesia masih jauh kalah menarik dibanding Malaysia," katanya.
Sedangkan kendala ketersediaan gas, kata dia, hingga kini belum tuntas diselesaikan pemerintah. "Memang ada perbaikan jaringan gas, tapi peningkatan kapasitas gas yang kami minta belum juga dipenuhi," ucapnya.
Lebih jauh, data BKPM juga menyebutkan nilai investasi asing terbesar kedua berasal dari industri kertas, barang dari kertas dan percetakan yang mencapai US$ 423,3 juta. Sedangkan industri lainnya seperti: makanan, pertambangan, perdagangan dan reparasi menyusul sebagai industri yang nilai investasinya termasuk besar.
BKPM mencatat investasi asing terbanyak berasal dari Inggris dengan 32 proyek senilai US$ 1,48 miliar (Rp 13,3 triliun). Keempat negara asing berikutnya yang menyumbang investasi terbesar adalah: Taiwan, Singapura, Jepang dan Korea Selatan.
Kebanyakan investasi asing ini ditanamkan di Jawa Timur dan DKI Jakarta, masing-masing dengan nilai US$ 1,57 miliar dan US$ 1,05 miliar. Ketiga daerah tujuan investasi asing utama lainnya adalah: Jawa Barat, Riau, dan Banten.
Untuk investasi dalam negeri, kebanyakan terdapat di sektor industri kertas, barang dari kertas dan percetakan sebesar Rp 14,16 triliun. Kemudian disusul oleh industri logam, mesin dan elektronika, makanan, tanaman pangan dan perkebunan, serta konstruksi.
RR ARIYANI