ENGLISH
| Saturday, 18 May 2013 |
INDONESIA
Kamis, 14 Juni 2007 | 20:09 WIB
Ratusan Burung Darat Terancam Punah pada 2050
TEMPO Interaktif, SAN DIEGO: Hasil studi tentang dampak aktivitas manusia terhadap populasi burung dunia itu diperkirakan bakal melipatgandakan jumlah spesies dilindungi dalam daftar merah World Conservation Union (IUCN). Walter Jetz dari University of California, San Diego, dan timnya dari Princeton University, Amerika Serikat, memetakan distribusi 8.750 spesies burung darat terhadap perubahan habitat yang diperkirakan bakal terjadi di beberapa tempat. Pemetaan itu dilakukan berdasarkan pengkajian millennium ecosystem assessment yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Spesies di wilayah beriklim sedang yang paling menderita karena perubahan iklim," kata Jetz. "Tapi di wilayah tropis, tempat burung beraneka ragam dan daerah jelajahnya sempit, akan menghadapi dampak yang lebih besar akibat pembukaan lahan." Perubahan iklim juga diramalkan akan menyebabkan punahnya beberapa spesies burung Artik dan Antartika. Selama satu abad mendatang, Jetz menemukan hampir 1.000 spesies burung akan kehilangan lebih dari separuh lahan favorit tempat mereka mencari makan. Hal ini mendorong mereka keluar dari posisi aman ke tahap kepunahan. Jetz dan timnya memperkirakan lebih dari 50 spesies burung itu memiliki potensi punah. Prediksi ini jauh lebih tinggi dibanding ramalan IUCN. Dari 80 spesies yang diestimasi Jetz menghadapi risiko kepunahan, hanya 41 yang saat ini terdaftar terancam punah oleh IUCN. Hasil studi yang dilaporkan dalam jurnal PloS Biology pekan lalu itu menambah banyaknya laporan yang memprediksi dampak perubahan iklim di alam. Tapi studi ini memiliki keunikan karena mempertimbangkan perubahan iklim serta pembukaan lahan dan hutan yang dilakukan manusia. Jetz mengakui model yang digunakannya memiliki keterbatasan karena berasumsi burung tak bisa menggeser daerah jelajahnya. Namun, dia yakin penemuannya bisa diaplikasikan secara luas. Bill Sutherland dari University of Cambridge, Inggris, sepakat dengan hasil studi itu. "Kami telah melihat dampak iklim itu ketika mempelajari kupu-kupu," kata Sutherland. "Binatang yang habitatnya terbatas pada suatu daerah kecil tertentu tidak akan bisa mengatasi perubahan habitat dan ini juga berlaku bagi banyak spesies burung tropis." Pemikiran hasil studi ini secara global amat penting, begitu kata Jetz. "Membantu mengingatkan negara-negara kaya tentang tugas pengembangan mereka untuk melestarikan di negara lain," katanya. "Uang yang digunakan untuk melindungi satu spesies burung lokal bisa menyelamatkan ratusan spesies di Amerika Tengah." newscientist | nature

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.