ENGLISH
| Thursday, 23 May 2013 |
INDONESIA
Thursday, 23 May 2013 | 16:11
Six men donning black and headbands march from their village in Cibogo,
Sumedang to the Presidential Palace to protest their eviction.
Thursday, 23 May 2013 | 15:55
The National Commission for State Asset Security coerced the residents of
Kumpay Village to work on the land owned by Djoko Susilo.
Sabtu, 02 Juni 2007 | 07:24 WIB
Satu Tiket Terbang Garuda-Merpati
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penumpang penerbangan lanjutan yang menggunakan jasa PT Garuda Indonesia dan PT Merpati Airlines cukup membeli satu tiket terusan. Kemudahan itu muncul setelah dua maskapai pelat merah ini menjalin kerja sama sinergi pelayanan pemasaran dan pengangkutan penumpang. Nota kesepahaman kerja sama diteken di kantor pusat Garuda di Jakarta, pekan ini. Misalnya, dari Jakarta ke Nias cukup membeli tiket sekali untuk penerbangan Jakarta-Medan dengan Garuda, lalu disambung Medan-Nias dengan Merpati," kata EFP Sales and Marketing Garuda Agus Priyanto seusai penandatanganan nota kesepahaman. Ia menjelaskan kerja sama itu akan menghasilkan layanan angkutan udara terpadu. Sasarannya penumpang pesawat dari kota besar ke kota kecil. Kerja sama antara lain mencakup traffic interline, special prorate (special prorate agreement), penyelarasan jadwal penerbangan, dan operasi. Agus mentargetkan kerja sama dilaksanakan paling lambat pertengahan Juni nanti. "Nomor penerbangan Merpati sudah di sistem kami, jadi tinggal sosialisasi." Untuk sementara, pemesanan tiket terusan baru dapat dilayani lewat bagian pemasaran Garuda. Nantinya akan ada potongan harga tiket terusan. Kini Garuda mengoperasikan 48 pesawat, yang selama setahun lalu mengangkut 8.229.339 penumpang. Sedangkan Merpati mengoperasikan 12 pesawat jet dan dua nonjet, yang mengangkut 2.396.095 penumpang selama 2006. Menurut Agus, kerja sama itu untuk mengoptimalkan sumber daya kedua maskapai. Garuda, yang berfokus di kota besar, memiliki jalur ke kota kecil, sedangkan Merpati sebaliknya. Nota kesepahaman tadi akan mempermudah pengguna jasa dan memperkuat maskapai nasional menghadapi liberalisasi penerbangan pada 2008. "Kalau fondasi tak kuat, nanti kami hanya menjadi penonton," ucapnya. Departemen Perhubungan berencana merestrukturisasi rute penerbangan nasional untuk merintis pola kerja sama bandara pengumpul dan pengumpan (hub and spoke). Nantinya ada pembagian maskapai yang melayani jalur utama dan jalur cabang. l Harun Mahbub

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.