ENGLISH
| Thursday, 20 June 2013 |
INDONESIA
Thursday, 20 June 2013 | 13:45
Families of Cebongan victims will be watching the trial of the
12 suspects to ensure the credibility and neutrality of the
Court.
Thursday, 20 June 2013 | 12:48
Ahok said US$1 tariff is realistic and suitable for Jakarta
residents.
Sabtu, 02 Juni 2007 | 07:13 WIB
Indonesia Butuh Kilang Minyak Baru
TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia membutuhkan kilang baru untuk mendongkrak produksi minyak. Alasannya, menurut Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Abdul Muin, produksi minyak Indonesia masih kecil bila dibandingkan dengan negara penghasil minyak lain. Itu sebabnya, "Untuk menambah produksi, harus ada kilang minyak baru," kata Muin di Jakarta. Saat ini ada lima kilang yang dikelola PT Pertamina, antara lain Kilang Plaju, Kilang Dumai, dan Kilang Balongan. Agar ada penambahan kilang, diperlukan insentif atau subsidi. Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, Indonesia perlu membangun kilang dengan kapasitas produksi 400-500 ribu barel per hari untuk memenuhi produksi dalam negeri. Saat ini total kapasitas kilang yang dikelola Pertamina hanya sekitar 1,050 juta barel hari, padahal kebutuhan dalam negeri sekitar 1,4 juta barel per hari. Kurtubi memperkirakan tahun depan kebutuhan bahan bakar minyak akan meningkat, sehingga kilang harus dibangun tahun ini. "Kalau kita tidak membangun (kilang) sekarang, tahun depan harus membangun kapasitas yang lebih besar lagi, karena kebutuhan BBM tiap tahun terus bertambah," jelasnya. Pembangunan kilang dengan kapasitas produksi 400-500 ribu barel per hari membutuhkan investasi sekitar US$ 5 miliar. Kurtubi mengakui biaya ini cukup mahal, sehingga perlu menggandeng investor. "Tapi keuntungan jangka panjang sangat bagus," ujarnya. Selain swasembada BBM, kata Kurtubi, keuntungan lain membangun kilang adalah impor minyak dari Singapura akan berkurang karena pemerintah membeli produk BBM dari kilang domestik. Indonesia juga berpeluang menjadi pusat logistik BBM Asia. "Dengan memiliki kilang yang memproduksi BBM, kita bisa mengekspor ke Filipina, Australia, dan Cina. Jadi kita tidak mengekspor minyak mentah, tapi produk jadi," katanya. Kilang harus dibangun di wilayah yang strategis dan berada di dekat laut dalam supaya bisa dilewati kapal tanker minyak raksasa, seperti Lombok sebagai tempat yang ideal. Sebelumnya, pemerintah berharap pembangunan kilang di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, dipercepat untuk melancarkan distribusi BBM di wilayah timur Indonesia. Pembangunan kilang minyak ini merupakan kerja sama antara PT Pertamina dan HEMOCO, perusahaan minyak asal Kuwait. Kedua perusahaan saat ini masih melakukan negosiasi untuk pembangunan kilang itu. "Kami berharap kilang itu segera diwujudkan. Sebab, keberadaan kilang itu sangat membantu distribusi minyak di Indonesia," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers setelah bertemu dengan Perdana Menteri Kuwait Syekh Nasser al-Mohammad al-Ahmad al-Sabah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu lalu. l Nieke Indrietta | Sutarto

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.