Saturday, 18 May 2013 | 19:50

Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Saturday, 18 May 2013 | 17:14

French is the 14th country that legalizes same-sex marriage.
Sabtu, 02 Juni 2007 | 18:36 WIB
Presiden Minta Perusahaan Sisihkan Dana untuk Bantuan Pendidikan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta perusahaan-perusahaan untuk menyisihkan sebagain dananya untuk program Corporate Social Responsibility (CSR).
"Saya akan teruskan ke menteri BUMN kebetulan menterinya juga hadir di sini, Pak Sofyan Djalil. Paling tidak BUMN mengalokasikan dana Community Development atau Corporate Social Responsibility dengan model pelatihan guru seperti ini," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu(2/6), saat tanya jawab dengan guru eks Pelatihan CSR Telkom dan Republika di Istana Negara.
Jawaban Presiden Yudhoyono ini menanggapi permintaan Abdul Halim, guru Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN Jakarta agar perusahaan lain mengikuti jejak Telkom dan Republika itu. Presiden, dihadapan sekitar 500 guru yang telah menjalani pelatihan itu berjanji pemerintah akan terus meningkatkan dana pendidikan. "Meskipun belum mencapai 20 persen seperti diamanahkan UUD 1945 . Tapi pemerintah bersama DPR dan DPD terus bekerja meningkatkan jumlah anggaran pendidikan nasional," kata Presiden Yudhoyono. Selain untuk pendidikan umum, Presiden juga meminta pelatihan yang sama diadakan untuk pondok pesantren.
Pada guru-guru ini, Presiden Yudhoyono juga berpesan agar mencegah murid-murid mereka bersikap hedonisme sebagai akibat dampak buruk globalisasi. "Hedonisme itu dekat narkotika dan kejahatan. Karena uang dan materi diatas segalanya. Selamatkan generasi kita dari gaya hidup hedonistik itu," ujar Presiden.
Presiden juga meminta guru-guru itu mengajak murid-murid mereka menjauhi gaya hidup yang salah menerapkan arti kebebasan, misalnya pornoaksi. Perilaku itu, lanjut dia bertentangan dengan ajaran agama dan budaya masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga mengkritik tayangan mistik yang banyak bertebaran di televisi. Menurutnya, tayangan itu tidak mendidik masyarakat untuk memecahkan masalah dengan akal dan nalar sambil berdoa kepada Tuhan. "Justru lari ke dukun," kata dia. Perilaku mencari jalan pintas seperti itu, kata Presiden juga harus dihindari.
SUTARTO