ENGLISH
| Monday, 20 May 2013 |
INDONESIA
Rabu, 30 Mei 2007 | 00:45 WIB
Diantara Desing Peluru di Libanon Utara
TEMPO Interaktif, Nahr Al-Bared: Baku tembak menyalak di kamp pengungsi Palestina di kawasan Nahr Al-Bared, Libanon kemarin. Sempat mereda pada akhir pekan, situasi mencemaskan meruyak seperti awal pekan lalu saat pasukan Libanon melakukan bombardemen berat mengusir anggota milisi Fatah Al-Islam. Apalagi kelompok militan itu menolak menyerah. "Kami menolak menyerahkan siapapun," kata juru bicara Fatah Al-Islam, Abu Salim Taha kepada AFP. Namun mereka bersedia berunding lewat mediator untuk mencari solusi. TIga delegasi para ulama dari Persatuan Sarjana Palestina, Ahad lalu bertemu dengan sejumlah tokoh Fatah Al-Islam di kamp tersebut. Hingga kemarin, jalan-jalan di wilayah Libanon utara itu masih lengang. Pasalnya kecemasan melingkupi seluruh warga terkait gencatan senjata yang rapuh antara militer dan Fatah Islam. Banyak toko dan mobil yang diparkir teronggok, jendela-jendela gedung hancur, dan jalan-jalan dekat kamp pengungsi banyak bertabur rongsokan, sampah dan bangkai tikus. Di rumah Omar Rashed, warga Nahr Al-Bared, tampak ruang tamu yang poranda. "Di rumah saya semua warga sipil," kata Rashed, 65 tahun, pensiunan guru. "Bukan pos militer," tegasnya sembari menyebut banyak tetangganya kini mengungsi di suatu ruang sempit. Banyak pengungsi Palestina di sana tak ada listrik, makanan dan air minum yang minim, antara lain karena mayoritas tanki air rusak atau hancur diserang. Sekitar separuh dari 31 ribu warga Nahr al-Bared meninggalkan kamp pengungsi sejak Selasa malam pekan lalu. Mereka menumpang mobil, truk, minivan hingga cuma berjalan kaki. Rawa Freiji (9) meraung-raung menangis di kursi belakang mobil di sisi dua kakaknya saat keluar dari kamp. "Kami hidup dari hari ke hari," kata ibu mereka Hayat Freiji (40) yang tak tahu kabar putrinya yang berusia 17 tahun. Pertempuran baru itu jelas menyengsarakan para pengungsi. Mereka keturunan Palestina yang pergi karena diusir Israel selama perang seiring pendirian negera itu apda 1948. "Kami diperlakukan seperti anjing," kata Ahmed Kanaan, 92 tahun. Pak tua berjenggot putih itu mengisap rokot sigaret,"Mereka mendorong kami agar melanjutkan berjalan." Akibat jantungnya bermasalah, Kanaan tak bisa meninggalkan kamp pengungsi. Maka ia bersama putrinya Intisar (37) bertahan apapun yang terjadi. AFP/dwi arjanto

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.