Senin, 21 Mei 2007 | 00:05 WIB
Harga CPO Dunia Bakal Terus Naik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia diperkirakan masih akan terus naik hingga mendekati US$ 800 per ton. Ini memperlengkap catatan lonjakan CPO internasional yang fantastis.
Jika sepanjang sejarah sebelumnya rekor harga tertinggi baru sekitar US$ 450 per ton, yaitu pada tahun lalu, saat ini harga sudah mencapai US$ 755 per ton.
"Awal Mei baru sebesar US$ 740 per ton. Tidak tertutup kemungkinan harga akan terus naik," kata Ketua Umum Gabungan Produsen Kelapa Sawit Indonesia Derom Bangun kepada Tempo di Jakarta.
Lonjakan harga CPO itu, menurut dia, selain karena peningkatan permintaan dunia, juga ada permainan pelaku pasar di lantai bursa. Selain itu, permintaan dunia sedang meningkat, terutama dari India, Cina, Pakistan, dan Eropa. "Tambahan lagi," kata dia, "ada peralihan ke sumber energi alternatif, biofuel, dan biodiesel yang membutuhkan minyak sawit lebih banyak."
Namun, tutur dia lebih lanjut, peningkatan permintaan itu tidak sebanding dengan produksi dan suplai CPO di pasar internasional. Biasanya produksi CPO semester awal tahun memang lebih rendah dibanding semester akhir. Tapi, lantaran terjadi musim kemarau lebih panjang, produksi tahun ini anjlok 10 persen dibanding tahun lalu.
Dari sisi bursa berjangka, Derom memperkirakan sentimen negatif masih akan membayangi perdagangan CPO, terutama karena arah kebijakan pemerintah Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar kedua di dunia, tidak jelas.
Faktor-faktor itu pula yang mempengaruhi lonjakan harga minyak goreng di dalam negeri. Artinya, kenaikan harga yang sempat menyentuh sekitar Rp 8.000 per kilogram itu tidak semata faktor pengadaan dan permintaan.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies, Pande Radja Silalahi, kepada Tempo mengatakan pemerintah sebaiknya tidak bereaksi berlebihan untuk meredam kenaikan harga minyak goreng. Sebab, alih-alih menurunkan harga, Indonesia malah akan kehilangan potensi pasar yang sangat besar akibat melambungnya CPO dunia.
"Tak cuma itu," ujar dia, "salah langkah bisa berakibat buruk pada ekonomi secara keseluruhan."
Kenaikan harga CPO dunia yang menggiurkan itu, menurut dia, wajar direspons produsen yang memperbanyak ekspor ketimbang memasarkan di dalam negeri. Penjualan di dalam negeri pun mengacu pada harga CPO dunia agar perusahaan tidak merugi. Konsekuensinya, konsumen menanggung kenaikan harga minyak goreng--sebagai produk turunan CPO.
"Jika terlalu reaktif, kerugian yang lebih besar sudah menunggu, yakni kehilangan pangsa pasar yang potensial di saat harga komoditas sedang bagus-bagusnya," ujar Pande.
Terlebih lagi, tutur dia, faktor permainan spekulan sangat besar dalam pasar CPO sehingga pemerintah akan sulit mengatasinya.
Pande berpendapat fluktuasi harga minyak goreng sebaiknya diserahkan kepada mekanisme pasar. Sebab, konsumsi minyak goreng di masyarakat pun tidak sebanyak komoditas lainnya, seperti beras dan gula. "Jadi pengaruhnya tidak besar terhadap inflasi."
l RR ARIYANI