Selasa, 15 Mei 2007 | 18:48 WIB
YPKKI: Tertibkan Tempat Praktek Bedah Plastik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjajarta, mendesak pemerintah segera membuat peraturan yang mengatur tentang praktek bedah plastik. Saat ini tempat praktek bedah plastik ilegal sangat marak dan korbannya terus bertambah.
"Korbannya telah banyak, mereka ada yang cacat seumur hidup hingga mati," katanya dalam jumpa pers tentang praktek bedah plastik, di Hotel Treva International, Jakarta, Selasa sore.
Ia mensinyalir banyak klinik bedah plastik yang tidak mengantongi izin dari Departemen Kesehatan. Salon-salon kecantikan, kata Marius, juga banyak yang melakukan bedah plastik. Padahal operasi ini hanya boleh dilakukan oleh dokter spesialis. “Apalagi jika yang disuntikkan ke tubuh adalah silikon atau kolagen," katanya.
Marius merujuk data Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi) 2007 yang mencatat 249 kasus kesalahan bedah plastik. Sebagian besar kesalahan terjadi di bagian hidung (97 kasus), dagu (44), bibir bawah (40), pipi (23 kasus), bibir atas (12 kasus), payudara (12 kasus), kemaluan luar (10 kasus), kelopak mata atas/bawah (8 kasus), bokong (1 kasus), dan tubuh lain (2 kasus). "Yang tidak terdata bisa mencapai ribuan kasus," katanya.
Penyebab utama terjadinya kesalahan bedah plastik, ia melanjutkan, karena masyarakat mencari pelayanan yang murah (54 kasus), dirayu penyuntik (45 kasus), rujukan dari teman (39 kasus), bujukan iklan (19 kasus), tidak tahu bahwa hanya dokter spesialis yang boleh melakukan bedah plastik (11 kasus), dan lain-lain (6 kasus).
Ia mencontohkan, untuk bedah plastik bagian dagu, biaya yang dipatok rumah sakit pemerintah sekitar Rp 6 juta, sedangkan di salon-salon hanya berkisar Rp 3-4 juta.
Sekretaris Jenderal Perapi, Theddeus Prasetyono mengungkapkan, akibat kendurnya pengawasan banyak tempat praktek bedah plastik yang menggunakan silikon cair yang dicampur dengan bahan-bahan lain. Selain untuk menambah kekenyalan, hal itu untuk menurunkan biaya. "Padahal tambahan bahan-bahan itu bisa menyebabkan alergi," katanya. Dwi Riyanto Agustiar