Jum'at, 30 Maret 2007 | 01:20 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 2008 Tidak Realistis
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Target pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi 6,8 persen tahun depan dinilai tidak realistis. Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. Tony Prasetiantono mengatakan, pemerintah terlalu ambisius. Target 6,5 persen pada 2007 saja sulit dicapai. Pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan mentok di 5,8 persen.
Hingga akhir triwulan pertama 2007, kata Tony, belum ada tanda-tanda sektor riil akan bergerak. Padahal fundamental ekonomi terutama tingkat suku bunga sudah lebih baik dibandingkan 2006. “Ambisius boleh, tapi yang penting kenyataannya," kata Tony. Tahun depan, dia bahkan tidak yakin pertumbuhan ekonomi mampu mencapai angka 6,5 persen.
Dia menjelaskan, persoalan ekonomi saat ini adalah market failure atau kegagalan sektor finansial menyalurkan dana. Hal itu bisa dideteksi dari besarnya dana Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang mencapai Rp 283 triliun. Sedangkan loan to deposite ratio (LDR) baru mencapai 64 persen. "Ini berarti ada kelebihan likuiditas," katanya.
Kondisi itu terjadi lantaran lembaga keuangan masih takut menyalurkan dananya ke sektor riil. Salah satu sebabnya adalah trauma dengan upaya penegakan hukum. Untuk memperbaiki kegagalan pasar, satu-satunya resep adalah keberanian pemerintah untuk campur tangan terhadap pasar. Sedangkan yang terjadi saat ini, pemerintah dinilai kurang berwibawa.
Pasar, kata Tony, sedang menunggu sentimen positif dari pemerintah untuk memecah kebuntuan ekonomi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan reshufle kabinet, terutama menteri-menteri ekonomi. “Reshufle setidaknya bisa membawa angin segar bagi ekonomi, cetusnya.
Selain itu perbankan, terutama milik pemerintah, harus didorong untuk menyalurkan kredit. Tapi pemerintah juga harus berani berkoordinasi dengan penegak hukum untuk menyamakan persepsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. “Jika itu tidak dilakukan, pertumbuhan ekonomi 2008 saya kira berakhir pada 6 persen.”
agoeng wijaya