ENGLISH
| Wednesday, 22 May 2013 |
INDONESIA
Wednesday, 22 May 2013 | 02:39
With a daily production volume averaging at 86 million tons on normal days,
Freeports's ceased operations may cost the state US$1.82 million a day.
Wednesday, 22 May 2013 | 02:22
The Energy Ministry announced that all victims of the Freeport mine collapse have
been found. Twenty one workers died while 10 others suffer injuries.
Kamis, 22 Maret 2007 | 20:03 WIB
Amerika Serikat Pertanyakan Posisi NU
TEMPO Interaktif, Jakarta:Amerika Serikat pertanyakan sikap Nadlatul Ulama berkaitan dengan masalah Iran dan Irak. Keingintahuan Amerika Serikat tersebut, menurut Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi disampaikan oleh Kuasa Tata Usaha Kedutaan AS di Jakarta John A Heffren. "Kita kan sedang berusaha untuk mengurai masalah yang membelit Palestina, Iran, Iran dan Libanon. Nah mereka ini ingin tahu maunya NU itu seperti apa," ucap Hasyim pada wartawan seusai menerima Heffren di kantornya, gedung PB NU Jakarta, Kamis petang (22/3). Salah satu upaya NU untuk membantu penyelesaian masalah Irak ialah dengan menggelar dialog antara Sunni dan Syiah di Istana Bogor 3-4 April mendatang. Dialog ini rencananya akan dihadiri oleh 21 orang ulama dari Irak yang tahu banyak tentang permasalahan dan konflik di negeri seribu satu malam itu. Hasyim mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Heffren yang berlangsung hampir satu setengah jam itu, dia telah menjelaskan mengapa NU berkonsentrasi membantu penyelesaian masalah Irak. "Saya sampaikan kepada Dubes AS bahwa NU tidak bekerja untuk Irak, Amerika Serikat, Saudi atau yang lain. Tapi NU bekerja untuk agama, bangsa, kemanusiaan, perdamaian dan keadilan," ucap Hasyim. Dia menekankan bahwa NU tidak memihak manapun dan tidak juga tidak pro atau kontra kepada sebuah negara atau region tertentu. Kalau langkah NU sekarang ini dinilai sebagai pergeseran NU ke arah kanan, Hasyim mengatakan itu hanya karena selama ini NU terlalu lama berada di kiri. "Sehingga ketika kita kembali ke tengah lalu dipandang bergeser ke kiri. Padahal tidak,"ucap Hasyim. Apa yang dilakukan NU, menurut Hasyim, adalah bentuk dari sikap NU sendiri ketika melihat berbagai pertikaian yang bermotif politik, ekonomi dan hegemoni dijustifikasikan dengan agama. "Misalnya bagaimana isu Syiah dan Sunni telah digunakan untuk kepentingan yang sebenarnya diluar agama," ucapnya mencontohkan. Sebagai organisasi Islam terbesar didunia dan sebagai moderat, kata Hasyim NU tidak boleh diam. Karena kalau NU hanya diam maka NU telah membiarkan sebuah malapetaka. Kepada Heffren, Hasyim juga menyampaikan bahwa NU tidak berpretensi untuk menyelesaikan masalah Irak ini secara utuh. Karena NU sadar bahwa faktor dari masalah di Irak itu sangat kompleks dan rumit. "Itu kan campur aduk dari faktor budaya, sekte, politik, kekuasaan, intervensi, intelegen, dendam, balas dendam sejarah yang menumpuk jadi satu," ucap Hasyim. Tapi dengan adanya dialog Sunni-Syiah ini paling tidak NU bisa membantu mengurai duduk masalah yang sebenarnya seperti apa. Karena menurut Hasyim dorongan dari Indonesia ini sangat berpengaruh pada upaya pembentukan pemerintahan koalisi di Irak, "begitu yang disampaikan Khaleed Masshal pada saya saat bertemu 4 Maret lalu," ucapnya. Saat ditanya apakahpPemerintah AS melalui Heffren menyampaikan permintaan khusus atau peringatan pada NU mengenai masalah itu, Hasyim mengatakan tidak. "Kita kan sudah sama-sama tuanya, sudah mengerti," ucap Hasyim. Titis Setianingtyas

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.