Kamis, 15 Februari 2007 | 00:11 WIB
70 Persen Surat Kabar Tak Layak Bisnis
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar Leo Batubara menilai, 70 persen surat kabar yang ada di Indonesia sudah tidak layak secara bisnis karena minimnya tiras (oplah) dan minimnya pemasukan iklan.
Bahkan dari 30 persen sisanya yang layak, menurut dia, yang bisa disebut benar-benar layak dan sehat secara bisnis hanya beberapa perusahaan saja. “Itu jantung persoalannya,” ujar Leo kepada Tempo.
Menurut dia, mayoritas surat kabar itu gagal menciptakan kebutuhan pasar karena sebenarnya masyarakat memiliki daya beli yang cukup tinggi. Ceruk pasar di Indonesia juga masih cukup besar.
Indonesia saat ini memiliki 828 surat kabar dengan penetrasi mencapai 7,2 juta eksemplar per hari. “Jumlah tersebut tidak ideal untuk penduduk Indonesia yang kini sudah menembus angka 250 juta orang,” ujarnya.
Padahal, penetrasi surat kabar dengan jumlah penduduk di negara berkembang yang ideal 1:10. Prestasi Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Singapura (1:2,8), Malaysia (1:8), dan Jepang (1:1,8).
Sedangkan dari sisi konsumsi, menurut dia, pengeluaran masyarakat terhadap media cetak nasional baru mencapai Rp 4,9 trilliun. Bandingkan dengan konsumsi masyarakat untuk industri rokok yang mencapai Rp 150 triliun.
Padahal, Leo menambahkan, pasar surat kabar itu sebenarnya bisa diciptakan asalkan industri menampilkan berita yang atraktif, mencerahkan, taat pada kode etik jurnalistik, serta mampu melayani kebutuhan masyarakat.
Direktur Eksekutif Nielsen Media Research Ananto Pratikno berpendapat senada. Menurut dia, selama surat kabar bisa membaca kebutuhan pasar, bisa tumbuh tinggi. Pasar media surat kabar bisa diciptakan untuk setiap level sosial masyarakat. "Terutama bagi mereka yang memiliki gaji di atas Rp 700 ribu per bulan," kata Ananto pada kesempatan terpisah.
Dia menambahkan, masyarakat kelas menengah ke bawah umumnya tertarik dengan berita-berita kriminal. Sedangkan kalangan menengah ke atas tertarik dengan kejadian yang lingkupnya nasional dan internasional. Sedangkan untuk masyarakat daerah, pembentukan selera itu harus diimbangi dengan sajian informasi yang berkaitan dengan peristiwa di daerah yang bersangkutan.
Karena itu, dia optimistis, industri surat kabar masih memiliki peluang untuk berkembang. Apalagi, belanja iklan untuk surat kabar dalam tiga tahun terakhir selalu meningkat.
Berdasarkan survei Nielsen Media Research, belanja iklan surat kabar pada 2006 mencapai Rp 8 trilliun atau meningkat 23 persen dari tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan belanja iklan untuk surat kabar ini paling tinggi dibandingkan belanja iklan di media lain seperti televisi dan majalah.
Menurut Ananto, untuk meningkatkan portofolio perusahaan, beberapa perusahaan media massa mengakuisisi perusahaan media lainnya atau menciptakan media baru. “Ini terjadi pada media elektronik maupun media cetak,” katanya.
Riky Ferdianto