Rabu, 31 Januari 2007 | 19:08 WIB
Fokus 2007: Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah sempat empat kali tertunda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu(31/1) sore, di Istana Merdeka, membacakan pidato awal tahun. Presiden dalam pidatonya mengatakan fokus pemerintah 2007 tetap pada penurunan penganguran dan angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, dibutuhkan stabilitas dan fundamental ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk menurunkan angka kemiskinan, pemerintah berjanji memperbaiki koordinasi dan kualitas program-program pengentasan kemiskinan. Misalnya bantuan tunai bersyarat, beras untuk rakyat miskin, bantuan pendidikan, dan kesehatan gratis.
Selain program-program yang telah ada di atas, Program pemerintah pada 2007 untuk pengentasan kemiskinan antara lain pengadaan air bersih, pembangunan infrastruktur pedesaan, pembangunan bio energi, reformasi agraria.
Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung otonomi daerah. Dia mengatakan dengan otonomi, dana perimbangan dan otonomi khusus terus meningkat. Pada 2005, dana pusat yang diberikan ke daerah tersebut hanya Rp 153,4 triliun. Sedangkan 2007 mencapai Rp 258,8 triliun.
Presiden mengatakan angka pertumbuhan ekonomi saat ini sudah mendekati sebelum krisis, sekitar 5,6 persen. Pertumbuhan ekonomi 2007 diharapkan mencapai 6 persen atau lebih.
Untuk mengerakkan sektor riil, Presiden berharap Bank Indonesia menurunkan lagi suku bunga bank. "Sesuai makin menurunnya tingkat inflasi," kata Presiden Yudhoyono.
Pada pidato setebal 59 halaman itu, Presiden juga berharap Rancangan Undang-Undang Perpajakan segera diselesaikan.
Berbeda dari kebiasaan, pidato ini disampaikan di awal tahun dan bukan di akhir tahun. Presiden beralasan, pada Januari telah didapatkan gambaran utuh pencapaian tahun sebelumnya. Selain itu, pelbagai kalangan misalnya DPR, Partai Politik, lembaga kajian, dan pengamat secara perorangan telah melakukan evaluasi kinerja pemerintah pada akhir tahun dan awal tahun baru.
Presiden mengatakan menerima kritik dan masukan itu. Namun, pemerintah sulit merespon kecaman yang hanya sarat retorika tanpa dilengkapi data dan fakta yang akurat.
Pidato Presiden ini dimulai sekitar pukul 16.15 WIB tanpa dihadiri menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Hanya wartawan cetak dan elektonik yang mengikuti acara ini.
Sutarto