ENGLISH
| Friday, 24 May 2013 |
INDONESIA
Friday, 24 May 2013 | 18:03
London brutal assault victim was a member of the Royal Fusilier,
a loving father and comrade.
Friday, 24 May 2013 | 17:57
KPU Chairman Husni Kamil Malik inaugurated 80 commissioners and
gave understandings of the election regulations and how the
policies are formulated.
Sabtu, 13 Januari 2007 | 16:07 WIB
Nama Tan Malaka Harus Direhabilitasi
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pakar Sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Aswi Warman Adam, mendesak pemerintah merehabilitasi status pahlawan nasional Tan Malaka. "Tan Malaka dihilangkan dari buku pelajaran dan album pahlawan nasional," kata Aswi dalam diskusi bertajuk "Menguak Misteri Kematian Tan Malaka" di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 13/1). Aswi mengatakan, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963. Status tersebut, kata dia, tidak pernah dicabut namun kemudian ia dipinggirkan pada era Orde Baru. Menurutnya, rehabilitasi Tan Malaka bisa berupa memasukkan kembali Tan Malaka dalam buku pelajaran sejarah. Ia juga mengusulkan makam Tan Malaka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pemerintah, lanjutnya, harus segera menindaklanjuti temuan tiga titik di Jawa Timur yang diduga sebagai lokasi makam Tan Malaka. Menurut Aswi Tan Malaka meninggal dunia pada 21 Februari 1949 dengan cara ditembak yang hingga identitas penembaknya hanya inisial namun segera dibuka oleh penulis biografi Tan Malaka, Harry A. Poeze. Harry yang merupakan direktur penerbitan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau Lembaga Kerajaan Belanda Mengenai Pengkajian Asia Tenggara dan Karibia, mengatakan dirinya akan segera menerbitkan buku yang memuat fakta-fakta kematian Tan Malaka. Dalam buku tersebut ia akan memuat versi cerita kematian yang menurutnya benar serta sekitar 20 halaman versi yang dinilainya tidak benar karena tidak berdasarkan dokumen yang kuat. "Saya percaya versi saya 99,99 persen benar," ujarnya. OKTAMANDJAYA WIGUNA

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.