Selasa, 02 Januari 2007 | 18:07 WIB
Kenaikan BBM Industri Turunkan Daya Saing
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri pada Januari 2007 bakal menurunkan daya saing produksi. Industri yang terkena dampak kenaikan BBM adalah industri baja dan tekstil.
Direktur Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan, peranan energi dalam struktur biaya industri baja dan tekstil sanagt besar. Akibatnya, kata dia, kenaikan BBM dipastikan akan menurunkan produktifitas pabrik. "Struktur biaya kedua industri baja 22-23 persen dan tekstil sekitar 13 persen," katanya, Selasa (2/1).
Ansari menjelaskan, dengan komponen biaya tinggi maka akan menaikan biaya produksi dan mengakibatkan penurunan daya saing produk. "Tapi penurunannya tidak selalu sama dengan struktur biayanya," ujarnya.
PT Pertamina (Persero) sejak 1 Januari 2007 menaikkan harga BBM industri. Harga minyak tanah industri naik 4,9 persen, minyak diesel 0.5 persen dan premium 1,9 persen.
Menurut Ansari, mekanisme harga BBM industri sesuai harga pasar telah menjadi konsensus nasional. Sehingga pengusaha harus bisa menyesuaikan dengan gejolak harga BBM dunia.
Pemerintah, kata dia, berupaya mendorong perusahaan agar lebih efisien dalam penggunaan energi. "Untuk perusahaan tekstil di Jawa Barat sudah ada sekitar 200 perusahaan mulai beralih menggunakan batu bara," ujarnya.
Saat ini Departemen Perindustrian telah melakukan audit energi industri bekerja sama dengan PT Koneba. "Kami tawarkan rekomendasi pada perusahaan agar menggunakan energi lebih efisien," kata Ansari.
Sekretaris Eksekutif Asosisi Pertekstilan Indonesia Ernovian G. Ismy mengatakan, kenaikan minyak diesel 0,5 persen berpengaruh terhadap industri tekstil sektor hulu. Sedangkan kenaikan minyak tanah hingga 4,9 persen berpengaruh langsung pada industri rumahan seperti batik. "Sekecil apapun kenaikan dapat mempengaruhi harga jual produk," katanya.
Dia menambahkan, dengan kenaikan harga produk menyebabkan penurunan daya saing sedangkan daya beli masyarakat belum pulih. "Kinerja perusahaan dapat memburuk dan berpotensi meningkatkan pengangguran," ujarnya.
MUHAMAD FASABENI