ENGLISH
| Sunday, 19 May 2013 |
INDONESIA
Saturday, 18 May 2013 | 19:50
Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Saturday, 18 May 2013 | 17:14
French is the 14th country that legalizes same-sex marriage.
Sabtu, 23 Desember 2006 | 19:17 WIB
Pemerintah Percepat Peluncuran Raskin 2007
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah mempercepat peluncuran program beras untuk rakyat miskin (raskin) yang semula dijadwalkan Januari 2007 menjadi akhir bulan ini. Sebab, kenaikan harga beras dinilai sudah yang di luar kewajaran dalam dua pekan terakhir Desember ini. "Raskin akan disalurkan kepada 15,8 juta rumah tangga miskin di 33 provinsi," kata Direktur Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo pada acara peluncuran perdana Raskin 2007 di Kantor Divisi Regional Bulog Jakarta, Sabtu (23/12). Widjanarko mengatakan, Departemen Perdagangan telah memberikan kebebasan kepada Bulog untuk mengantisipasi melonjaknya harga beras di pasaran. Dua pekan pertama Desember ini, harga beras naik 9,5 persen hingga mencapai Rp 5.688 per kilogram. Menurut dia, raskin yang akan dilepas adalah beras kelas III (SNI IV), dengan harga Rp 1000 per kilogram. "Masing-masing rumah tangga miskin akan mendapat 10 kilogram selama 12 bulan. Total beras yang disiapkan 158 ribu ton," ujarnya. Data Badan Pusat Statistik, kata Widjanarko, menunjukkan jumlah rumah tangga miskin di Indonesia mencapai 19,1 juta, dengan kategori rumah tangga hampir miskin, miskin, dan sangat miskin. Tapi, rumah tangga miskin yang bisa mendapat raskin hanya pada kategori miskin dan sangat miskin. "Program raskin ini akan dihentikan sementara ketika panen raya tiba tahun depan," ucapnya. Selain raskin, menurut Widjanarko, Bulog juga akan terus menjalankan program operasi pasar untuk menekan dan mengendalikan harga beras di pasaran. "Kami berharap harga beras bisa stabil pada harga Rp 4000 per kilogram," ujarnya. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, yang juga hadir dalam acara itu, menambahkan, program operasi pasar yang telah dijalankan Bulog telah berhasil menghentikan melonjaknya harga beras. Adanya raskin diharapkan akan membantu mampu mengembalikan harga normal sebelum terjadinya kenaikan harga akhir-akhir ini. Menurut dia, pemerintah mentargetkan harga beras rata-rata menjadi Rp 4.500 per kilogram. "Saya berharap pemerintah daerah menyalurkan raskin secara tepat sasaran," ucapnya. Mari juga menegaskan, pemerintah pusat akan terus berkoordinasi untuk memantau kondisi harga beras di daerah. Dalam peluncuran ini juga dilakukan teleconference dengan empat provinsi yang juga memulai peluncuran raskin 2007, yakni Provinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Keempat Provinsi itu memaparkan kondisi terakhir harga beras di pasaran. Sulawesi Utara misalnya, harga beras di pasaran saat ini telah turun pada kisaran Rp 4.300-Rp 4.500 per kilogram. Harga itu jauh turun dari harga beras November lalu yang mencapai Rp 5.500 per kilogram. "Operasi pasar telah berhasil menurunkan harga," kata Gubernur Sulawesi, Sinyo Harry Sarundajang, melalui teleconference. Hal senada diutarakan Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Barat lainnya. Rata-rata harga beras di dua provinsi itu telah turun pada kisaran Rp 4.500 per kilo gram. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, harga beras medium terendah mencapai Rp 4.700 per kilogram, dan harga tertinggi di daerah yang jauh dari perkotaan masih pada kisaran Rp 5.500 per kilogram. Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, Jakarta akan mendapat jatah Raskin sekitar 15 ribu ton. "Saat ini jumlah masyarakat miskin di Jakarta berjumlah 151 ribu jiwa. Jumlah terbesar berada di Jakarta Utara, sebanyak 48 ribu rumah tangga miskin," katanya. Dia menegaskan, Provinsi DKI Jakarta selama ini telah memprioritaskan penanggulanan kemiskinan. "Kami mentargetkan 2007 nanti masyarakat miskin menjadi hanya 4,9 persen dari 8,7 juta total penduduk Jakarta." AGOENG WIJAYA/RR ARIIYANI

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.