English Version
ENGLISH
| Wednesday, 01 October 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Wednesday, 01 October 2014 | 23:14
Australian Aircraft to Support US-led Air Strikes in Iraq Australia has deployed around 600 troops and several aircraft to
the United Arab Emirates (UAE) since mid-September.
Wednesday, 01 October 2014 | 23:12
Cops Sack Taiwanese Meth Dealer The Taiwanese resident was arrested for smuggling 6.2 kilograms
of methamphetamine from China to Indonesia.
Senin, 18 Desember 2006 | 23:12 WIB
Irwandi Dinilai Lebih Tunduk ke Swedia Ketimbang Jakarta
TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota Komisi Pertahanan DPR Permadi meragukan calon Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dapat melepaskan diri dari kebijakan Gerakan Aceh Merdeka yang dikendalikan dari luar negeri. Permadi bahkan menengarai hampir bisa dipastikan Aceh bakal terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Mereka itu tidak akan tunduk ke Jakarta, tapi tunduk ke Swedia. Buktinya soal pembubaran GAM, Irwandi mengiyakan apa yang dikatakan tokoh GAM di luar negeri," kata Permadi, Senin. Menurut Permadi, pemilihan kepala daerah di Aceh dengan memperbolehkan adanya calon independen sebenarnya tidak ubahnya dengan referendum sebagai peluang bagi untuk memerdekakan diri. Kemenangan anggota GAM baik dalam pemilihan gubernur maupun bupati dimaknai sebagai terbentuknya pemerintahan GAM yang dilegalkan oleh pemerintahan Jakarta melalui MoU Helenski. Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif meminta emua pihak berpikir positif dan mempercayakan kepada pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan MoU Helenski yang memunculkan pemimpin pemerintahan yang berasal dari unsur GAM. Dia mengatakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang terlibat sejak awal dalam proses perdamaian di Aceh tentu memahami apa yang terjadi. "Saya percaya ketika Jusuf Kalla menyatakan Irwandi dan Nazar tidak akan macam-macam setelah menjadi gubernur," kata dia. Zaenal juga menepis kemungkinan tokoh GAM di luar negeri akan mendikte Irwandi dalam menjalankan pemerintahan. Menurut dia, tipis kemungkinan Aceh akan melepaskan diri meski dipimpin oleh bekas tokoh penting gerakan tersebut. Imron Rosyid