ENGLISH
| Tuesday, 18 June 2013 |
INDONESIA
Rabu, 29 November 2006 | 14:51 WIB
Januari-Oktober 16 Penderita AIDS Malang Meninggal
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 16 pengidap HIV/AIDS di kecamatan Gondanglegi dan Sumberpucung, kabupaten Malang meninggal di usia produktif selama antara Januari dan Oktober. Data terakhir jumlah pengidap virus ini mencapai 84 orang. "Sebagian besar tertular dari penggunaan obat terlarang," kata Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Malang, Awig Namiastuti, di Malang, (Rabu 29/11). Menurut Awig, 80 persen korban meninggal tertular HIV/AIDS dari jarum suntik Narkoba. Sisanya tertular melalui hubungan seks berganti-ganti pasangan. Jumlah penderita HIV di Kabupaten Malang sebanyak 15 orang dan penderita AIDS sebanyak 69 orang. Dari total pengidap tiga di antarnya balita yang tertular HIV dari orangtua. Para pengidap selalu mendapat pantauan dari petugas klinik, Voluntary Conseling and Testing dan Manajemen Kasus HIV/AIDS Malang. Petugas memeriksa kesehatan dan memberikan bimbingan konseling. "Biar penderita tidak depresi," kata Awig Nawiastuti. Wilayah para penderita HIV/AIDS di Malang merata di seluruh kecamatan. Bahkan, kata Awig, "Ada yang tinggal di kawasan yang paling pelosok di Kabupaten Malang." Sedangkan penderita terbanyak berasal dari Kecamatan Sumberpucung dan Gondanglegi. Sekretaris Tetap Komisi penanggulangan AIDS Kabupaten Malang, Adi Purwanto, mengatakan, tingkat prevalensi penderita HIV/AIDS mencapai 85 persen. Dari sekitar 33 pasien yang diperiksa, 25 diantaranya dinyatakan positif terjangkit. Tingkat prevelensi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya di antara 40 persen dan 50 persen. Ini lebih tinggi dibanding daerah rawan HIV/AIDS seperti Bali dan Jakarta. bibin bintariadi

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.