English Version
ENGLISH
| Friday, 28 November 2014 |
Indonesia Version
INDONESIA
Facebook
Twitter
Thursday, 27 November 2014 | 22:02
Anti-Corruption Activist Targeted in Bombing in Probolinggo Buchori Muslim is working as an observer to several on-going
corruption cases in Probolinggo.
Thursday, 27 November 2014 | 21:46
Minister Rudiantara to Lift Bans on Vimeo Minister of Telecommunications and Informatics Rudiantara and
Vimeo CEO have scheduled a video conference to discuss the
ban lifting.
Kamis, 03 Agustus 2006 | 22:38 WIB
Pemesanan Obligasi Retail Capai Rp 1,9 Triliun
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah optimistis target indikatif penjualan Obligasi Retail Indonesia (ORI) seri 001 sebesar Rp 2 triliun akan tercapai. Menurut Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan Mulia Nasution, hingga Rabu lalu data pemesanan yang masuk ke agen penjual sudah lebih dari Rp 1,9 triliun. "Masih ada beberapa hari lagi, ya, doakan saja (target tercapai)," tutur Mulia. Walaupun sejumlah agen penjual mengeluhkan sempitnya masa penawaran dan sosialisasi yang hanya tiga pekan, dia memastikan pemerintah tidak akan mengubah rencananya. Besok adalah hari terakhir bagi para peminat obligasi untuk mengajukan pembelian. "Wajar kalau ada yang kurang dalam penerbitan perdana," kata dia. "Ini kan barang baru." Pemerintah menerima keluhan soal sempitnya masa penawaran dan sosialisasi sebagai masukan penting bagi penerbitan ORI selanjutnya. Sejauh ini pemerintah belum memutuskan apakah masih akan menerbitkan ORI tahun ini atau tahun depan. Namun, Departemen Keuangan menolak mengubah standar batas maksimal penjualan ORI dari Rp 50 juta menjadi Rp 1 miliar per investor. Ide ini diusulkan agen penjual dengan alasan akan terlalu banyak calon investor yang mesti diurus kalau pembeliannya kecil-kecil. "Kalau segitu (Rp 1 miliar), namanya bukan retail lagi. Kami memang mengutamakan investor kecil," kata Mulia. Dia menambahkan, kalau investor punya Rp 1 miliar, bisa saja investasi di portofolio lain, seperti beli reksa dana atau saham. Agus Supriyanto/Anne L Handayani