Tuesday, 21 May 2013 | 18:40

South Sulawesi is expecting to see an increase of domestic
tourist visits in 2013.
Tuesday, 21 May 2013 | 18:17

Indonesian textile export value to improve this year, reaching
1.8 percent of world market
Kamis, 27 Oktober 2005 | 17:49 WIB
BI Optimis Rupiah Menguat Hingga 2006
TEMPO Interaktif, Jakarta:Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hartadi A.Sarwono menyatakan optimis penguatan nilai tukar rupiah dapat bertahan hingga 2006, karena arus kas masuk sudah mulai terlihat.
"Kami lihat Surat Utang Negara (SUN) sudah sedemikian murah dan prospeknya bagus. Ini saat yang paling baik untuk membeli," kata Hartadi, Kamis (27/10).
Rupiah berhasil menguat hingga di bawah Rp 10.000. Kurs rupiah pada transaksi Rabu (26/10) ditutup pada posisi Rp 9.980 per dolar Amerika, melemah tipis tujuh poin dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 9.987.
Menurut Hartadi, penguatan rupiah juga didukung oleh kondisi regional yang menampakkan penguatan sejumlah mata uang terhadap dolar, seperti yen (Jepang) dan won (Korea). Turunnya harga minyak dunia juga menimbulkan sentimen
positif di pasar, sehingga Indonesia juga terkena dampak penguatan tersebut. "Kesempatan menguat di bawah Rp 10.000 itu ada," kata dia.
Namun menurut analis pasar uang dari Currency Management Group, Farial Anwar, penguatan rupiah hanya jangka pendek. Penguatan yang terjadi lebih disebabkan oleh bertambahnya pasokan dolar dari hasil penjualan SUN dan pembayaran penjualan saham-saham BCA dan NISP. Selain itu, harga minyak dunia terkendali dan konsumsi minyak menurun sehingga permintaan dolar juga turun.
Ia menambahkan, saat ini masyarakat banyak membutuhkan rupiah untuk kebutuhan Idul Fitri, pembayaran gaji dan tunjangan hari raya. "Saat ini orang banyak jual dolar, penguatan rupiah hanya jangka pendek," kata dia. Astri Wahyuni